Minggu, 12 Juni 2016
KEDATUAN SASAK LOMBOK (MPSSGI)
KEDATUAN SASAK LOMBOK (MPSSGI)
Pada abad ke-4 M di Kutai (Tenggarong), Kalimantan Timur berdiri sebuah kerajaan Hindu dengan Rajanya bernama Kudungga. Menurut beberapa ahli sejarah, Kudungga adalah penduduk asli, kepala suku Kutai. Ia mengawini seorang putri dari Campa (Muangthai) keturunan Raja Bhadawarman. Karena cintanya yang kuat, Kudungga mengikuti agama istrinya, dan ketika anak lelakinya lahir dinamai Aswawarman, mengambil nama marga “Warman” dari leluhur mertuanya di Campa.
Selanjutnya Aswawarman berputra tiga lelaki yakni: Mulawarman beristana tetap di Kutai (Tenggarong), sedangkan kedua adiknya yakni Purnawarman mendirikan Kerajaan Tarumanegara di Jawa-Barat (dekat Bogor) dan Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan (dekat Palembang). Pada abad ke-10 salah seorang keturunan Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa datang ke Bali, dan mengalahkan raja yang berkuasa saat itu: Sri Ratu Ugrasena yang dikenal dalam mitologi sebagai Mayadenawa.
Sri Kesari Warmadewa kemudian menobatkan diri sebagai Raja dengan gelar: Sri Wira Dalem Kesari. Selama kurun waktu hampir 100 tahun, dinasti Warmadewa memegang tampuk pimpinan, walaupun dibeberapa periode pernah direbut oleh Raja-Raja dari dinasti lain.Darma Udayana Warmadewa adalah keturunan Sri Kesari Warmadewa. Ia memerintah bersama-sama istrinya: Gunapria Darmapatni atau juga bernama Mahendradata, yakni putri Mpu Sindok, Raja Mataram (Jawa Tengah).
Dari perkawinan ini mereka mempunyai dua anak lelaki yakni Erlangga dan Anak Wungsu. Anak Wungsu tetap di Bali menggantikan kedududkan ayahnya, sedangkan Erlangga pergi ke Jawa Timur dan pada tahun 1016 menikahi putri Darmawangsa (Raja Medangkemulan di Pasuruan). Pada tahun 1019 Erlangga menjadi Raja menggantikan mertuanya dengan gelar: Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Teguh Wikramottunggadewa.Adik Airlangga bernama Anak Wungsu kemudian menjadi raja di Bali menggantikan ayahnya. Karena Anak Wungsu tidak ada kaitan dengan keturunan arya di bali, maka di sini tidak diuraikan lebih lanjut.
Airlangga mempunyai putra mahkota dua orang; oleh karena itu kerajaan Kahuripan dipecah dua,
A-Kerajaan Kediri dipimpin Sri Jaya Baya/Sri Samarawijaya beribu kota di Daha dan memiliki putera bernama
1-Sri Dangdang Gendis
2-Sri Jaya Katowang ( yang memberontak kepada Singosari di zaman Prabu Kertanegara).
3-Sri Jayakatha
B- Kerajaan Jenggala dipimpin Sri Jaya Sabha/Mapanji Garasakan beribu kota di Kahuripan
Sidoarjo.-memiliki putera bernama Adwaya Brahma yang menjadi seorang Mahamenteri pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara di Singosari yang menikah dengan Dara Jingga,
Pada prasasti Padangroco tertulis bahwa, arca Amoghapasa dikawal dari Jawa oleh 14 orang, termasuk Adwayabrahma yang ditulis paling awal. Adwayabrahma sendiri menjabat sebagai Rakryan Mahamantri pada pemerintahan Prabu Kertanagara. Pada zaman itu, jabatan ini merupakan jabatan tingkat tinggi atau gelar kehormatan yang hanya boleh disandang oleh kerabat raja.karena
Adwayabrahman adalah merupakan kerabat raja Singosari yang berasal dari Kerajaan Kesari yang bergelar Sri Jayasabha adalah adik dari Prabu Jayabaya Raja Kediri,istilah “Dewa” dalam Pararaton adalah jabatan Rakryan Mahamantri pada sebuah Kerajaan.Dara Jingga adalah putri dari Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa, raja Kerajaan Dharmasraya dan juga merupakan kakak kandung dari Dara Petak.
Dara Jingga memiliki sebutan Sira Alaki Dewa, dia yang dinikahi orang yang bergelar Dewa,oleh sebab itu maka Dara Jingga dinikahi oleh Adwaya Brahman yang disebut juga dengan nama Sri Jayasabha.Adwaya Brahman adalah pembesar Shingoshari dan pada zaman Kerajaan Majapahit juga berpangkat “Maha Menteri”.memperistri Putri Dara Jingga yang dalam lontar Arya Damar disebutkan : "Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu:
1-Sri Cakradara,( suami Tribuana Tunggadewi )
2-Arya Dhamar (yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiayi Nala yang melakukan exspedisi ke Lombok tahun 1343 M),
3-Arya Kenceng ( yang menurunkan raja Tabanan Bali },
4-Arya Kuthawaringin,
5-Arya Sentong
6--Arya Pudak
Dalam babad Arya Kenceng Tabanan disebutkan,Dara Jingga” dan adiknya “Dara Petak” (Putih), keadatangan Putri ini pada zaman Kerajaan Singhasari yaitu pada masa pemerintahan Sri Kerthanegara/Bathara Siwa tahun isaka 1190-1214 atau tahun (1268-1292 Masehi).
Putri Dara Petak bergelar “Maheswari” diperistri oleh Sri Jayabaya atau Prabu Brawijaya I/Bhre Wijaya/Raden Wijaya, Raja Madjapahit pertama yang juga bergelar “Sri Kertha Rajasa Jaya Wisnu Wardana” pada tahun isaka 1216-1231 atau tahun (1294-1309 Masehi) yang selanjutnya menurunkan Prethi Santana/keturunan bernama “Kala Gemet” yang menjadi Raja Madjapahit kedua pada tahun 1309-1328 M, yang bergelar “Jaya Negara”.
Sedangkan Putri Dara Jingga yang bergelar Indreswari atau Sri Tinuhanengpura (yang dituakan di Pura Singosari dan Madjapahit) diperistri oleh Sri Jayasabha yang bergelar Sri Wilatikta Brahmaraja I atau Hyang Wisesa. Sri Jayasabha adalah pembesar Singosari dengan pangkat “Maha Menteri”. Putri Dara Jingga dalam lontar dikenal, yang berbunyi: Dara Jingga arabi Dewa Sang Bathara Adwaya Brahma yang selanjutnya menurunkan putra sebanyak enam orang laki-laki yaitu: Sri Cakradara, Arya Dhamar (yang disebut juga dengan Arya Teja alias Kiyai Nala atau Adityawarman), Arya Kenceng, Arya Kuthawaringin, Arya Sentong dan Arya Pudak yang kemudian menjadi Penguasa/Raja Di Bali
Bersama dengan keempat belas pengiringnya dan saptaratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnnabhumi" dan bahwa "Rakyan Mahamantri Dyah Adwayabrahma" adalah salah seorang pengawal arca tersebut. Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Petak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Prabu Kertanagara yaitu raja yang mengutusnya.Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Prabu Kertanagara telah tewas dan Kerajaan Singhasari telah musnah oleh Jayakatwang, Raja Kadiri. Jayakatwang itu sendiri telah tewas dibunuh pasukan Mongol yang akhirnya diserang oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang merupakan lanjutan dari Kerajaan Singhasari.Oleh karena itu, Dara Petak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanagara,yaitu yang menjadi raja Majapahit ke Dua.
Setelah itu Airlangga mengundurkan diri menjadi pendeta dengan bhiseka Rsi Jatayu.Dengan seorang gadis pegunungan Airlangga mempunyai putra bernama Sira Arya Buru (Arya Timbul). Arya Buru hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Nyi Gunaraksa, dikawini oleh Ki Pasek Tutuan, dengan syarat Ki Pasek Tutuan seketurunan menyembah roh Arya Buru.
Keturunan Erlangga yang datang ke Bali dan Lombok adalah: Sire Arya Buru, Sire Aryeng Kepakisan juga disebut Arya Kepakisan atau Nararya Kepakisan dan di Lombok dikenal dengan nama Bathara Indra Sakti( yang dilantik menjadi Raja Klungkung Bali oleh Gajah Mada tahun 1352 M), Sira Arya Kutawaringin, Sira Arya Gajahpara, Sira Arya Getas( salah satu keturunannya bernama Arya Sudarsana/Banjar Getas di Lombok ),sira Kebo Anabrang,Sira Arya Tunggul Nala ( yang dilantik oleh Gajahmada menjadi Raja Lombok tahun 1352 M ) ,Sira Arya Kertha Jala ( dilantik menjadi Raja Gowa ) Sira Arya Teja,dll
Sri Jaya Sabha Raja Jenggala memiliki tiga orang cucu yang dilantik menjadi Raja di Klungkung Bali,Lombok dan Gowa yaitu
1-Sira Aryeng Kepakisan dilantik oleh Gajahmada menjadi patih agung di Puri Samprangan, sebagai tangan kanan raja Bali pertama yang diangkat oleh Majapahit pada tahun 1352 M yaitu Sri Aji Kresna Kepakisan yang dikenal dalam babad lombok dengan nama Bethare Indra Sakti .
2-Bethara Tunggul Nala yang dilantik oleh Gajahmada pada tahun 1352 M ketika Gajah Mada mengadakan inspeksi langsung ke Lombok menjadi Raja Lombok di Pelabuhan Kayangan Lombok .
3-Bethara Kertha Jala dilantik menjadi Raja Gowa ..
Nama Arya Damar dikenal pada salah satu babad Arya Damar dari sekian versi babad tentang Arya Damar menyebutkan Arya Damar mempunyai nama lain yaitu Aditiyawarman,dan dalam babad Arya Kenceng di Tabanan Bali Arya Damar dikenal juga dengan nama Sira Arya Teja dan dikenal pula dengan nama Kiyai Nala. Dengan adanya nama Kiyai Nala yang mengadakan ekspedisi ke Lombok tahun 1343 M ,maka yang sebenarnya datang ke Lombok tersebut ialah Aditiyawarman sendiri yang bergelar Kiyai Nala,Di dalam babad Lombok disebutkan Kiyai Nala menjadikan tiga orang putera yang dijadikan sebagai Raja Klungkung Bali.Raja Lombok dan Raja Gowa.
Dari sumber babad Erlangga,dikatakan bahwa Sri Krisna Kepakisan itu merupakan cucu buyut dari dari Sri Jaya Sabha raja Jenggala yang dilantik oleh Gajah Mada menjadi Raja Klungkung Bali pada tahun 1352 M.Dari sumber babad Lombok disebutkan Raja Klungkung Bali bersaudara dengan Raja Lombok dan Raja Gowa.Babad Lombok menyatakan bahwa Kiyai Nala dalam ekspedisinya ke Lombok tahun 1343 M menurukan tiga tokoh yang bersaudara tiga orang yang nantinya dilantik menjadi raja Klungkung Bali,Lombok dan Gowa oleh Gajah Mada tahun 1352 M.
Pada tahun 1343 Kiyai Nala atau Sira Arya Teja atau di Bali lebih dikenal dengan Arya Dhamar/Adityawarman yang diberikan tugas untuk menaklukkan Nusantara bagian timur pulau Jawa , mengadakan ekspedisi ke Lombok dan menurunkan tokoh yang disebut Datu Besanakan Telu / Tiga Bersaudara yaitu :
(1)- Betara Mas Kerta Jala dilantik menjadi Raja Gowa
(2)- Betara Mas Indra Sakti/Sri Aji Krisna Kepakisan dilantik menjadi Raja Klungkung Bali,
(3) -Betara Mas Tunggul Nala dilantik menjadi Raja di Lombok.
.
Betara Mas Tunggul Nala menurunkan datu-datu Lombok seperti Bayan,
Selaparang Pejanggik.Langko,Sokong,Mambalan.
Betara Mas Tunggul Nala mempunyai dua orang putra yaitu
1.- Deneq Mas Muncul yang menurunkan datu-datu Bayan.Sokong dan Mambalan.
2.- Deneq Mas Putra Pengendengan Segara Katon mendirikan Kedatuan
Kayangan (Labuan Lombok) menurunkan datu-datu Selaparang dan Pejanggik yaitu
(a) Sri Dadelanatha,menjadi Datu Langko
(b) Deneq Mas Komala Dewa Sempopo menjadi Datu Pejanggik
(c) Deneq Mas Komala Jagat menjadi Datu Selaparang
A-KEDATUAN BAYAN
Pada tahun 1352 M, Gajah Mada datang ke Lombok untuk melihat sendiri perkembangan daerah taklukannya. Ekspedisi Majapahit ini meninggalkan jejak Kerajaan Gelgel di Klungkung di Bali dan di Lombok, pada waktu itu berdiri empat kerajaan utama yang saling bersaudara, yaitu:
1. Kedatuan Bayan di barat
2. Kedatuan Selaparang di Timur
3. Kedatuan Langko di tengah
4. Kedatuan Pejanggik di selatan.
Selain keempat kerajaan tersebut, terdapat beberapa kerajaan kecil, seperti Parwa/Purwadadi ,Sokong Samarkaton ,Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, dan Kentawang. Seluruh kedatuan ini takluk di bawah Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, kedatuan kedatuan ini kemudian menjadi wilayah yang merdeka.
Bayan merupakan kecamatan yang terletak di Kabupaten Lombok Utara yang masyarakatnya masih tetap memegang teguh tradisi ,adat ,budayanya sebagai warisan dari leluhurnya,terbukti hingga sampai saat ini komunitas yang tinggal di Bayan masih tetap memegang dan mempraktekkan kegiatan tradisi,adat-istiadat dan nilai-nilai budayanya tetap dijunjung tinggi oleh masyarakatnya, termasuk hukum adat yang mengatur dan mengikat secara keseluruhan komunitas adat Bayan. Hukum adat juga mengatur hubungan antar masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan alam lingkungannya, dan masyarakat dengan Tuhannya.yang merupakan tiga pondasi pokok keseimbangan dan keselarasan jasmani dan rohani.
Dalam babad disebutkan, bahwa Bayan pernah dipimpin oleh seorang raja yang istilah bahasa Bayan adalah “Datu Bayan”. Datu Bayan ini bergelar Susuhunan Ratu Mas Bayan Agung, dan dalam silsilahnya datu tersebut bersaudara 18 orang dari hasil perkawinan ayahandanya dengan beberapa permaisuri dan selir, Saudara Datu Bayan ini menyebar ke seluruh Pulau Lombok, Sejarah juga mencatat, dari hasil perkawinan pertama Datu Bayan, dia memperoleh dua orang putra yang bergelar Pangeran Mas Mutering Langit dan Pangeran Mas Metering Jagad. Dan kedua pangeran inilah yang melanjutkan kepemimpinan kerajaan Bayan.
Saidah Nur Candra, silsilah Datu Bayan seperti tercatat di babad Bayan Agung. Dalam Bayan Agung disebutkan bahwa kakek dari Datu Bayan bernama Bethara Mas Tunggul Nala yaitu putera dari Kiyayi Nala yang lebih dikenal dengan nama Arya Damar atau Aditiyawarman pada babad Arya Kenceng Tabanan Bali,beliu ditugaskan untuk menaklukkan daerah timur jawa yaitu Bali,Lombok,Sumbawa pada tahun 1343 M,dan dilanjutkan dengan insfeksi langsung Gajah Mada Pada tahun 1352 M,dan melantik Bethara Mas Tunggul Nala menjadi Raja di Lombok,Bethara Mas Tunggul Nala memiliki dua orang putra bernama Nenek Mas Muncul dan Nenek Mas Putra Pengendengan Segara Katon. Dari nenek Mas Muncul ini melahirkan beberapa putra diantaranya Datu Bayan Agung Prapda, Datu Sokong Raden Indrajaya dan Datu Mambalan. Sedangkan Nenek Mas Putra Pengendengan Segara Katon memiliki dua orang putra yaitu Datu Selaparang Deneq Mas Komala Jagat dan Datu Pejanggik Deneq Mas Dewa Komala Sempopo .
Datu Bayan Agung Prapda putera dari Daeneq Mas Muncul memiliki istri bernama Dewi Subadra, Dan dari perkawianannya ini lahirlah Datu Pangeran Mas Muterning Langit dan Pengeran Mas Muterning Jagad. Datu Pangeran Mas Mutering Langit sebagai saudara tertua berkedudukan di Bayan Timur dengan tugas menjalankan adat gama, yaitu sebuah lembaga adat yang mengatur hubungan vertikal dengan sang pencipta Allah SWT. Sementara Datu Pangeran Mas Mutering Jagad berkedudukan di Bayan Barat, yang bertugas menjalankan adat Luir Gama yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, lingkungan dan adat-istiadat lainnya.
Dan kedua pangeran inilah yang melanjutkan kepemimpinan kejarajaan Bayan.
1-Datu Pangeran Mas Mutering Langit sebagai saudara tertua berkedudukan di Bayan Timur dengan tugas menjalankan adat gama, yaitu sebuah lembaga adat yang mengatur hubungan vertikal dengan sang pencipta Allah SWT. Sementara
2-Datu Pangeran Mas Mutering Jagad berkedudukan di Bayan Barat, yang bertugas menjalankan adat Luir Gama yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, lingkungan dan adat-istiadat lainnya.
Kedua Datu Bayan tersebut dalam menjalnkan tugasnya dibantu oleh keluarga kerajaan, antara lain:
1-Titi Mas Rempung yang tinggal di Desa Loloan,
2-Titi Mas Puncan Surya yang tinggal di Desa Karang Bajo,
3-Titi Mas Pakel yang tinggal di Karang Salah.
4-Sedangkan dalam menjalankan tugas dibidang keagamaan dibantu oleh Titi Mas Pengulu, Mudim, Ketip dan Lebe Antassalam.
Kata “Bayan” berasal dari bahasa Arab yang berarti penerangan atau penjelasan. Nama ini dikenal setelah Islam masuk ke Bayan sekitar abad ke 16, yang dibawa oleh para ulama dan pedagang yang singgah di Pelabuhan Carik. Labuhan Carik sendiri kala itu adalah pelabuhan yang cukup strategis, karena tempat persinggahan para pedagang yang datang dari pulau Jawa, Sulawesi dan pulau Sumbawa. Dan pelabuhan itu sendiri sebagai bagian wilayah yang dikelola Kerjaan Bayan. Dan untuk menjaga Pelabuhan Carik diangkatlah Mak Lokak Sahbandar yang diberi tugas khusus mengelola Pelabuhan Carik.
Kerajaan Bayan terbentang sepanjang pantai utara Pulau Lombok dengan batas kerajaan Bayan saat itu adalah sebelah timur: Tal Baluk (berbatasan dengan Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur-sekarang), sebelah barat berbatasan dengan Menanga Reduh yang berada di Desa Melaka Kecamatan Pemenang, sementara sebelah utara: laut lepas dan sebelah selatan Gunung Rinjani
MASUKNYA ISLAM DI BAYAN
Islam masuk di Bayan Lombok tidak terlepas dari perkembangan Agama Islam di Tanah Jawa yang disebarkan oleh Wali Songo, Agama Islam masuk melaui pesisir utara Pulau Lombok pada masa Sunan Dalem ( 1505-1545 M ) menjadi Raja Gersik yaitu putera dari Sunan Giri Kedaton. Agama Islam di Bayan awalnya dibawa oleh pedagang pedagang dari Gersik Jawa Timur melalui
Pelabuhan Carik, dan dilanjutkan oleh generasi ke 4 Gersik yaitu cucu dari Sunan Dalem yaitu Sunan Prapen ( 1548-1602 M ),dan salah seorang Murid Syeikh Siti Jenar bernama Kebo Kanigoro yang dikenal dengan nama Sunan Pengging datang ke Lombok ketika terjadi gonjang ganjing tentang ajaran Syeikh Siti Jenar di Demak Bintoro.
Pada tahun 1510 M Kebo Kanigoro yang lahir tahun 1472 M menurut babad Tanah Jawi, hijrah ke Lombok hal tersebutbukan karena tidak tertarik terhadap tahta Majapahit yg jatuh ketangannya, tapi atas pertimbangan keselamatan jiwanya, sehingga membuatnya untuk hijrah ke tempat yg lebih aman dan mendirikan kerajaan baru ditempatnya yg baru, beliau menikah dengan putri dari Kerajaan Purwadadi Lombok bernama Dewi Kencana Sari,dan di Lombok dikenal dengan nama Sunan Pengging.Sunan Pengging menyebarkan agama Islam di daerah Purwa ,Pujut dan pindah ke Bayan tahun 1517 M,dan di Bayan Sunan Pengging dikenal dengan nama Pangeran Mangkubumi,Sunan Pengging menanamkan tentang prinsip dasar diterima dari gurunya Syeikh Siti Jenar Wetu Telu ketika masih di Jawa seperti dialog di bawah ini antara Syeikh Siti Jenar dan Kebo Kanigoro /Sunan Pengging :
“Ada berapa cara yang saling berbeda dari kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini. Tolong jelaskan pada kami, cara apa saja itu dan disebut apa proses kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini?,”
Kebo kanigoro tercekat kaget, lama ia tidak menjawab, akhirnya ia mengembalikan kepada Syekh Siti Jenar, “kami tidak bisa menjawab pertanyaan tuan Syaikh, kami mohon penjelasan.”
“Ketahuilah pangeran kebo Kanigoro, kemunculan makhluk hidup di dunai ini melalui tiga cara berbeda yang disebut wetu telu (keluar tiga).
1-Pertama, adalah yang disebut menganak (melahirkan).
2-Kedua, mengendong (melalui telur).
3-Ketiga, masemi (tumbuh).
Seluruh makhluk hidup yang memiliki daun telinga, umumnya muncul di dunia melalui cara menganak. Sedang makhluk-makhluk yang tidak memiliki daun telinga umumnya muncul ke dunia melalui mengendong. Dan semua makhluk hidup yang muncul tidak memiliki cara menganak atau mengendong, umumnya muncul ke dunia melalui cara masemi.”
Maka dengan hijrahnya Sunan pengging ke Lombok yang mengajarkan prinsip dasar Wetu telu,dan keturunan Sunan Pengging sangat banyak di Lombok dan sudah menyebar hingga ke Jawa sampai saat ini
Agama Islam menjadi agama negara di Kedatuan Bayan pada tahun 1515 M,dan pertama memeluk agama islam dari kalangan keluarga Datu Bayan adalah Titi Mas Supakel,menurut sejarah Bayan Titi Mas Supakel mempunyai 3 orang putra dan seorang putri yaitu :
1-Titi Mas Perempung
2-Titi Mas Muter
3-Titi Mas Sunsunan
4-Titi Mas Bunbunan
5-Titi Mas Pande ( putri )
Ketika Agama Islam masuk di Bayan ,maka putra putra Datu Bayan dikhitan sesuai dengan syariahislam,namun seorang putra dari Titi Mas Supakel yang bernama Titi Mas Bunbunan menolak untuk dikhitan,dan Titi Mas Bunbunan pindah ke Bali dan tetap memeluk Agama Hindhu,dan Titi Mas Sunsunan dikirim oleh ayahnya ke Pejanggik dan menetap di sana.Setelah Agama Islam berkembang di Bayan,Titi Mas Supakel pindah ke Gunung Batua,dan pemerintahan diserahkan kepada putranya yang paling besar bernama Titi Mas Perempung tahun 1552 M,namun pemerintahannya tidak berlangsung lama ,maka pada tahun 1560 M pemerintahan diserahkan kepada adik perempuannya yang bernama Titi Mas Pande yang bergelar Ratu Mas Bayan Agung dalam pemerintahan Ratu Mas Bayan Agung ini Agama Islam berkembang di Bayan dan Kedatuan Bayan berkembang maju,karena Ratu Mas Bayan Agung dikenal memerintah dengan adil dan bijaksana.
Titi Mas Supakel memerintahkan seorang puteranya yang bernama Titi Mas Muter untuk pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama di Mekah,dan di Mekah Titi Mas Muter diganti namanya menjadi Syeikh Nurul Rosyid,ketika Syeikh Nurul Rosyid pulang kembali ke Bayan .Syeikh Nurul Rosyid singgah dulu di Bagdad ,dan di Bagdad ia menuntut ilmu kepada seorang mursyid.dan di Bagdad Syeikh Nurul Rasyid diberikan nama gelar oleh Gurunya dengan nama Gosz Abdur Razaq.
Dengan kembalinya Titi Mas Muter atau Gaosz Abdur Razaq ,maka ia mulai menyebarkan agama Islam di Bayan bersama Sunan Prapen,dan mendirikan Masjid Bayan pada tahun 1578 M,yang sampai saat ini masih berdiri sebagai bukti sejarah tentang perkembangan agama islam di Bayan
B-KEDATUAN SELAPARANG
Kerajaan Majapahit melalui exspedisi di bawah Mpu Nala pada tahun 1343, sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa Maha Patih Gajah Mada yang kemudian diteruskan dengan inspeksi Gajah Mada sendiri pada tahun 1352.Ditandai dengan berdirinya Kerajaan Lombok Di Kayangan Labuan Lombok,dan selanjutnya berdiri Kerajaan Selaparang,Bayan dan Pejanggik. Selaparang Pejanggik dan Bayan sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen. Dengan Modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi, atau menyalin manusia Jawa kuno ke dalam lontar-lontar Sasak. Lontar-lontar dimaksud, antara lain Kotamgama, lapel Adam, Menak Berji, Rengganis, dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim, dan sebagainya.
Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, kerajaan-kerajaan kecil di pulau Lombok seperti kerajaan Selaparang, Langko, Pejanggik, Sokong dan Bayan dan beberapa desa kecil seperti Pujut,Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, Kentawang merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang merdeka. Dalam babad Lombok disebutkan batas-batas wilayah kekuasaan Selaparang meliputi:sebelah utara berbatasan dengan Sokong dan Bayan, sebelah selatan berbatasan dengan Kokok Belimbing, sebelah barat berbatasandengan Tegal Sampopo ke arah utara sampai Denek Mingkar (sebelah barat daerah ini ditemukan Sari Kuning) sedangkan batas timur tidak disebutkan. Dengan demikian wilayah Selaparang pada waktu itu meliputi sebagian besar Lombok Timur. Disebutkan pula bahwa Lombok dan Sumbawa berada di bawah kekuasaan seorang raja di Lombok.
Kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Sokong, Bayan,Langko, Kedaro, Parwa, Sarwadadi, dan Pejanggik mengakui Selaparang sebagai induk atau kakaknya. Hubungan di antara mereka penuh dengan persaudaraan, hidup rukun dan damai, tak ada gesekansehingga mereka tidak membutuhkan tentara reguler yang dipersenjatai. Apabila situasi membutuhkan pertahanan, maka rakyatsiap bangkit membela negara. Pejabat yang mengurusi masalah pertahanan dan keamanan disebut Dipati. Dengan demikian, persekutuan hukum masyarakat yang tertinggi di Lombok telah adasejak tahun 1543M.Sebagai kerajaan yang kuat, Selaparang juga melakukan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar pulau Lombok seperti dengan beberapa kerajaan di Kalimantan.
Dalam Hikayat Banjarmasin disebutkan bahwa seorang bangsawan Banjar bernama Raden Subangsa pergi ke Selaparang mengawini seorang putri raja.Dari perkawinan tersebut lahir Raden Mataram. Setelah istrinya meninggal, Raden Subangsa kawin lagi dengan Putri Selaparang di Sumbawa dan melahirkan Raden Banten.
Selanjutnya tahun 1618M kerajaan Goa menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumbawa Barat yang kemudian dipersatukandengan kerajaan Selaparang. Sejak keberhasilan Gowa merebut Lombok dari Bali pada tahun 1640 M, maka proses Islamisasi pun berjalan semakin mantap. Dalam usaha mengembangkan pengaruhnya di Lombok, masing-masing kerajaan meningkatkanhubungan melalui perkawinan antara kedua belah pihak (kerajaanSelaparang dan kerajaan Gowa). Hal ini dapat diketahui dari nama-nama gelar seperti Pemban Selaparang, Pemban Pejanggik, Pemban Parwa. Sedangkan kerajaan kecil lainnya yang bersifat otonom,rajanya disebut Datu seperti Datu Bayan, Langko, Sokong, Kuripan,Pujut dan lain-lainnya.
Setelah masuknya agama Islam, kerajaan Selaparang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Hal ini rupanya menjadihambatan bagi ekspansi sosial-ekonomi kerajaan Gelgel di Bali. Pada tahun 1520 M, Gelgel mencoba melakukan penyerangan tetapi tidak berhasil. Keberhasilan Selaparang menghambat laju masuknya kerajaan Gelgel salahsatunya juga karena mendapatkan perlindungan dari kerajaan Gowadi Makassar.Ditandatanganinya Perjanjian Bongaya di Klungkung Balitahun 1667 M menyebabkan pulau Lombok dan Sumbawadinyatakan lepas dari pengaruh Goa dan Tallo. Makakerajaan¬kerajaan di Bali pun kembali mencurahkan perhatiannya ke pulau Lombok dengan mengirim ekspedisi tahun 1667 M dan 1668 M. Tetapi kedua invasi tersebut dapat dipukul mundur olehSelaparang dengan bantuan dari prajurit Sumbawa.Kekalahan yang dialami oleh Gelgel tidak membuatnya berputus asa.
Pada tahun 1690 M, Gelgel membuat pangkalan militer di Pagutan dan Pagesangan yang dikoordinasi oleh kerajaan Karangasem. Strateginya yaitu dengan mengirimkan utusan berupa pasukan pendahulu yang beragama Islam yang dipimpin oleh Patih Arya Sudarsana (beragama Islam). Patih Arya Sudarsana berhasil menyusup ke Selaparang sehingga terjadi konflik antar kedua-belah pihak. Dalam peperangan tersebut, pasukan Arya Sudarsana berhasil didesak sampai Suradadi, tepatnya di daerah Reban Talat, tetapi Arya Sudarsana tidak berhasil ditangkap.
Dalam peperangan inipun kerajaan Selaparang mendapatkan bantuan dari kerajaan Sumbawa dibawah pimpinan Amasa Samawa (1723-1725 M). Sebagian Bekas prajurit Sumbawa itu kemudian menetap di Lombok dan menjadicikal-bakal atau nenek moyang dari penduduk desa Rempung,Jantuk, Siren Rumbuk, Kembang Kerang Daya, Koang Berora,Moyot dan yang lainnya. Para penduduk tersebut sebagian besar berbahasa Taliwang hingga saat ini.
Kekalahan Gowa oleh Belanda memaksa Gowa menandatangani "Perjanjian Bongaya" pada tanggal 18 November 1667 M. Sejurus kemudian VOC mengusir kekuasaan Goa dariLombok dan Sumbawa. Pada tahun 1673M Belanda memindahkan pusat kerajaan dari pulau Lombok ke Sumbawa untuk memusatkankekuatan. Hal ini diketahui dari berita-berita tahun 1673M dan 1680M tentang pertanggungjawaban raja Sumbawa atas daerah Lombok.Kemudian pada tahun 1674 M, Sumbawa mendandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya bahwa Sumbawa harusmelepaskan Selaparang.Setelah Selaparang lepas dari kekuasaan Sumbawa, makaVOC menempatkan regent dan pengawas.
Ketidak setujuanSelaparang terhadap VOC yang menempatkan regent dan pengawasini telah menyebabkan terjadinya pemberontakan Selaparang padatanggal 16 Maret 1675 M. Untuk memadamkan pemberontakantersebut, VOC di bawah Kapten Holsteiner menangkapi para pemimpin Selaparang. Mereka masing-masing adalah: Raden Abdi Wirasentana, Raden Kawisangir Koesing, dan Arya Boesing. Merekadihukum denda dengan membayar 5.000 sampai 15.000 batang kayusepang dalam jangka waktu 3tahun.Sejak kedatangan VOC ke Lombok hingga tahun 1691 M,akhirnya kerajaan Selaparang mengalami kemunduran. KarangasemBali bersama Arya Banjar Getas berperang melawan raja-raja diLombok. Pada tahun 1740 M terjadi peperangan di Tanaq Beaq yang dimenangkan oleh pihak Karangasem. Sejak saat itu maka tamatlah riwayat kerajaan Selaparang.
C-KEDATUAN PEJANGGIK
Selain kerajaan Selaparang yang memiliki jangkauan kekuasaan relatif luas di Gumi Sasak, terdapat pula kerajaanPejanggik. Di sisi lain, berdirinya kerajaan Pejanggik lebih disebabkan karena kerajaan Selaparang yang dianggap mampu mengayominya ternyata tidak mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan wilayah sekitar. Maka kerajaan Pejanggikpun melepaskan diri dari Selaparang.Berbeda dengan Selaparang yang merupakan daerah pesisir,maka Pejanggik merupakan kerajaan yang berada di wilayah pedalaman. Kerajaan Pejanggik yang terletak di daerah pedalaman memang cenderung statis, akan tetapi kondisinya lebih tenang dan penuh dengan kewibawaan. Daerah kekuasaan Pejanggik meliputi pantai barat sampai pantai timur pulau Lombok, dari Belongas hingga Tanjung Ringgit.
Dalam ekspedisinya ke Lombok Kiyayi Nala yang sudah berusia 49 tahun saat itu,menjadikan puteranya yang bernama Bethara Mas Tunggul Nala menjadi Raja di Pelabuhan Kayangan Lombok,dan pada tahun 1352 M ketika Mahapatih Gajah Mada mengadakan inspeksi ke Lombok melatik Bethara Mas Tunggul Nala yang saat itu berusia 35 tahun menjadi Raja Lombok,dan puteranya Bethara Mas Tunggul Nala yang bernama Deneq Mas Muncul yang baru berusia 18 tahun dilantik menjadi Raja Bayan,dan adiknya Deneq Mas Muncul yang bernama Deneq Mas Pengendengan Segara Katon yang masih kecil pada waktu itu yaitu masih berumur 3 tahun tinggal bersama bapaknya di Labuhan Kayangan Lombok .Selama 40 tahun Bethara Mas Tunggul Nala memerintah 1352-1394 M,dan digantikan oleh Puteranya Deneq Mas Pengendengan Segara Katon yang pada waktu itu berusia 43 tahun,( 1394 -1417 M ),disebut Deneq Mas Pengendengan Segara Katon,karena setelah lahirnya Deneq Mas Muncul pada tahun 1334 M sampai tahun tahun 1349 M Deneq Mas Muncul belum juga memilki adik,maka Bethara Tunggul Nala mengadakan persembahan untuk meminta berkah dari Tuhan Yang Maha Esa dengan mengadakan upacara di pantai untuk memohon agar dikarunia anak lagi,dan permohonan tersebut dikabulkan dan lahirlah seorang putera pada tahun 1349 M yang dinamakan Deneq Mas Pengendengan Segara Katon.Pada tahun 1417 M Deneq Mas Pengendengan Segara Katon melepaskan jabatannya,dan digantikan oleh Puteranya Deneq Mas Komala Jagat ( 1417-1462 M ).yang nantinya Deneq Mas Komala Jagat mendirikan Kerajaan Selaparang.
Dalam usia 63 tahun ( tahun 1417 M) Deneq Mas Pengendengan Segara Katon pergi menyepi ke Rembitan bersama seorang puteranya yang masih kecil bernama Deneq Mas Komala Sempopo berusia 7 tahun.Selama 35 tahun melakukan Tapa Brata di Rembitan dan usia 98 tahun ( 1453 M ) Deneq Mas Pengendengan Segara Katon tutup usia,sesuai dengan keyakinan agama yang dianut pada waktu itu maka Deneq Mas Pengendengan Segara Katon dipelebon dengan upacara ngaben.Pada tahun 1458 M dan 5 tahun sesudah wafatnya Deneq Mas Pengendengan Segara Katon ,Deneq Mas Komala Sempopo mendirikan Kerajaan Pejanggik yang mempunyai urutan pemerintahan sebagai berikut :
1-Deneq Mas Komala Sari.pada generasi kelima ( 1458-1586 M )
2-Deneq Mas Unda Putih pada generasi keenam ( 1586-1649 M )
3-Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari pada generasi ketujuh.( 1649-1667 M )
Kakak Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari yang bernama Pemban Mas Aji Komala dilantik sebagai raja muda dan mewakili Gowa di Sumbawa pada tangga13 November 1648 M. Sejak itulah tercatat bahwakerajaan Pejanggik mulai mengalami perkembangan.
Kerajaan Pejanggik mengalami perkembangan yang semakin pesat setelah bertahtanya Pemban Mas Meraja Sakti. Beliau kawin dengan putri Raden Mas Pamekel (Raja Selaparang) bernama Putri Mas Sekar Kencana Mulya. Dewa Mas Pakel sebagai raja diSelaparang menyadari kekeliruannya selama ini yang terlalu banyak memperhatikan Sumbawa dan melupakan Pejanggik yangmerupakan saudaranya. Selanjutnya raja Selaparang menyerahkan berbagai benda pusaka dalem ke Pejanggik yang merupakan pertanda bahwa Pejanggik menjadi penerus misi pemersatu di Gumi Sasak.Hal ini membuat raja muda Raja Mas Kerta Jagat yang merupakan pengganti selanjutnya di kerajaan Selaparang semakin tersinggung.
Bergabungnya Arya Banjar Getas membuat Pejanggik semakin kuat. Tetapi hal ini justra menyebabkan semakin renggangnya hubungan antara Selaparang-Pejanggik. KerajaanPejanggik pun mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Langko, Sokong, Bayan, Tempit dan Pujut. Kerajaan lainnya dijadikan kedemungan dengan gelar kerajaan seperti Datu Langko, Datu Sokong, Datu Pujut dan lain-lainnya. Sedangkan raja Pejanggik sendiri memakai gelar yang sama dengan kerajaan Selaparang yaitu Pemban. Semua. itu juga merupakan basil kepiawaian Arya Banjar Getas dalam menjalankan tugas-tugasnya dalam peperangan. la pun mendapat gelar tanirihan yaitu "Surengrana" dan "Dipati Patinglanga". Secara bertahap, strategi-strategi yang digunakan oleh Arya Banjar Getas adalah sebagai -berikut:
1-.Melakukan konsolidasi ke dalam Pejanggik.
2-Mengisolir Selaparang dengan mendekati kerajaan-kerajaan keluarga Bayan.
3-Menggerogoti kerajaan Selaparang dengan menguasai wilayahseperti Kopang, Langko, Rarang, Suradadi, Masbagik, Dasan Lekong; Padamara, Pancor, Kelayu, Tanjung. Kalijaga, barukemudian masuk ke Selaparang.
Arya Banjar Getas melakukan sebuah strategi konsolidasi dengan menyerahkan keris sebanyak 33buah kepada raja Pejanggik,lalu mengarak berkeliling dan menyerahkannya kepada para prakanggo untuk kemudian ditukar dengan keris pusaka masing-masing. Penukaran tersebut merupakan suatu bentuk kesetiaan dan loyalitas tunggal kepada raja Pejanggik. Keberhasilan Arya Banjar Getas melakukan berbagai gerakan tersebut langkah demi langkah disebut Politik Rerepeq.
Bila ditinjau dari segi kekuasaan, kerajaan Pejanggik sangat solid, akan tetapi langkah-langkah yang ditempuh oleh Arya Banjar Getas dianggap merombak tatanan hubungan yang merupakan jalinan yang telah dibina secara turun-menurun.
Jika kita melihat generasi Kerajaan Pejanggik terdapat Delapan Generasi yaitu:
1-Kiyai Nala /Aditiyawarman adalah generasi ke satu datang ke Lombok tahun 1343 M
2-Bethara Tunggul Nala generasi ke dua ( 1343-1394 M )
3-Deneq Mas Pengendengan Segara Katon Generasi ke tiga ( 1393-1457 M )
4-Deneq Mas Dewa Komala Sempopo Generasi ke empat ( 1458-1518 M )
5-Deneq Mas Komala Sari Generasi ke lima ( 1518-1586 M )
6-Deneq Mas Unda Putih generasi ke enam ( 1586-1649 M )
7-Deneq Bekem Buta Intan Komala Sari Generasi ke tujuh ( 1649-1667 )
8-Maspanji Meraja Komala Sakti Generasi ke delapan ( 1667-1696)
Apabila kita melihat dari ke delapan Generasi tersebut dapat ditentukan lama dari satu generasi memerintah dalam satu priode pemerintahan,jika kita kembali priode datangnya Kiyai Nala ke Lombok tahun 1343 M,dan runtuhnya Kerajaan Pejanggik 1696 M,maka dapat dihitung Kerajaan Pejanggik berkuasa di Lombok bagian tengah selama 1696-1343=353 tahun,dan 353 tahun dibagi oleh delapan Generasi atau tujuh generasi ,karena Kiyai Nala /Aditiyawarman kembali ke Majapahit dan menjadi Raja Damasraya di Hulu Sungai Batang Hari dekat Palembang,maka tiap tiap generasi rata rata memerintah selama 40 sampai 50 tahun.
Dengan melihat hal tersebut di atas berdirinya Pejanggik tahun 1458 M oleh Deneq Mas Dewa Komala Sempopo,yang bercorak Siwa Budha.Paada zaman Deneq Komala Sari ( 1518-1578 M ),islam mulai tersebar di Lombok pada awal abad ke 16 M yaitu sekitar tahun 1506 M,dengan melihat hal tersebut Islam masuk ke Pejanggik pada masa pemerintahan Deneq Mas Komala Sari ( 1518 M, dan pusat Pemerintahan Pejanggik sudah dipindah ke Desa Pejanggik yang Sekarang.Adapun raja raja Pejanggik yang dulu masih beragama hindu mereka tidak memiliki bukti kuburan/makam ,karena mereka pada saat itu masih menggunakan pelebon.Oleh sebab itu jejak tilas yang masih di makam Serewe adalah makam makam dari raja Pejanggik seperti Deneq Mas Komala Sari,Deneq Mas Unda Putih,Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari yang sudah memeluk agama islam,dan Maspanji Meraja Komala Sakti dimakamkan di Ujung Karang Asem Bali setelah Pejanggik runtuh tahun 1696 M.
Sebelum Karangasem melebarkan kekuasaan ke Lombok, untuk penjajakan raja menjalin lawatan (perkenalan-persahabatan) politik dengan beberapa raja. Di kerajaan Pejanggik Lombok Tengah, raja berkenalan dengan Datu Pejanggik Maspanji Meraja Sakti memiliki anak muda bernama Mas Pakel Ukir. Sebagai tanda perasudaraan, raja Bali mengundang Mas Pakel datang dan tinggal di Bali alias diangkat menjadi keluarga kerajaan Karangasem.
Mas Pakel adalah seorang pemuda gagah, ganteng, dan sangat sopan, sehingga para putri raja bahkan istri raja sangat menyukainya. Akibatnya, keluarga lingkungan kerajaan banyak yang merasa iri atau sakit hati. Mereka lantas membuat fitnah bahwa: Mas Pakel Ukir merusak pagar ayu, merusak istri raja, merusak putri-putri raja, yang mestinya dijaga. Gencarnya profokasi menyebabkan raja termakan oleh cerita ini, sehingga membuat rekayasa untuk menyingkirkan pemuda Pakel. Pakel ditunjuk menjadi panglima, dan seolah dikirim untuk melawan musuh. Namun, di wilayah yang kini ada di kawasan Tohpati Mas Pakel berusaha untuk dibunuh.
Mas Pakel Ukir sangat sakti, sehingga tidak bisa mati. Meski demikian, Pakel yang sendirian juga tidak bisa selamat dari pengeroyokan. Konon ia lantas mengambil sikap, ”Saya sekarang tahu bahwa saya direkayasa untuk dibunuh. Kalau mau membunuh saya bawalah saya ke Pantai Ujung”. Proses berikutnya ada tiga versi:Pertama, Di pantai Mas Pakel tetap gagal dibunuh, sehingga akhirnya diusir balik ke Lombok dengan memakai perahu kecil (perahu pancing). Adapun makam yang ada di dekat Panjai Ujung, Karangasem itu, bukan makam Datu Mas Pakel Ukir (yang dikenal dengan sebutan Sunan Mumbul) tetapi makam Raja Pejanggik yang ditawan Raja Karangasem hingga meninggal. Kedua, ketika patih yang ditugaskan untuk membunuh mengayunkan pedang, Mas Pakel tiba-tiba menghilang dari pandangan dan berlari di atas air.
Patih lantas membuat rekayasa untuk lapor pada raja, dengan membunuh seekor anjing dan hatinya diserahkan pada raja sebagai bukti bahwa dia telah menjalankan perintah. Namun, beberapa hari setelah peristiwa itu, tiba-tiba muncul seberkas sinar tempat Mas Pakel Ukir menghilang, dan tanah yang semula rata berubah menjadi gundukan menyerupai kuburan. Sejak itulah Mas Pakel dijuluki dengan sebutan Sunan Mumbul. Ketiga, Pakel akhirnya memang dibunuh, karena dia telah melepaskan kesaktian. Mayatnya dikubur di Pantai itu.
Ketika hendak dibunuh dia mengeluarkan kutukan: ”siapapun yang membunuh, semua keturunannya kalau lewat lokasi ini akan sakit jika tak bisa kencing di sekitar sini”. Perkataan Pakel ini dipercaya menjadi tuah oleh komunitas Hindu setempat. ”Saya kenal I Gede Gusti Putu. Dia nunggu dulu nggak mau lewat kalau belum kencing. Kalau belum kencing ndak berani lewat katanya. Makam yang dipercaya sebagai kuburan Mas Pakel ini kini biasa diziarai terutama pada 15 hari pasca lebaran Iedzul Fitri.
Jika kita lihat tentang berita dari Lombok ,bahwa Mas Pakel Ukir tidak dibunuh,namun diberikan sebuah perahu untuk kembali ke Pulau Lombok,dan Patih Kerajaan Karang Asem yang ditugaskan untuk membunuh Mas Pakel Ukir membuat laporan kepada Raja,bahwa Mas Pakel Ukir telah dibunuhnya di Pantai Ujung.Sebagai bukti bahwa Mas Pakel Ukir tidak dibunuh dan kembali ke Lombok yaitu adanya keturunannya yang sampai saat ini masih ada di Lombok yaitu di sekitar wilayah Kateng dan Mangkung.Di Lombok menurut beberapa sumber disebutkan Putri dari Mas Pakel Ukir dinikahkan dengan Putra Maspanji Komala Patria yang melahirkan seorang putra bernama Maspanji Turu ,dan mas Maspanji Turu melahirkan tiga orang putra yang bernama :
1-Denek Laki ( Demung ) Nanggali yang beranak pinak di Kateng
2-Denek Laki ( Demung ) Suwa yang beranak pinak di Mangkung
3-Denek Laki ( Demung ) Paritu yang beranak pinak di Selebung Ketangga
Terkait Mas Pakel dalam konteks sejarah penaklukan Lombok oleh Karangasem, terdapat dua interpretasi sejarah.
Pertama, Pengangkatan Mas Pakel sebagai saudara kerajaan dan dipersilahkan tinggal di Karangasem, sejak awal telah dirancang untuk wahana penjajakan kekuatan: Ingin tahu berapa kekutannya, dan berapa prajuritnya. Jadi dengan adanya Datuk Mas Pakel atau disebut juga Datuk Pemuda Mas diambil sebagai saudara, kerajaan Karangasem bisa leluasa kesana-kemari untuk menyelidiki kekuatan lawan. Setelah mengetahui kekuatan dan kelemahan Lombok, Mas Pakel Ukir yang tidak lagi “dibutuhkan” disingkirkan, sedangkan penaklukan atas Lombok segera dilakukan. Jadi, pengusiran/pembunuhan Pakel dengan alasan ”merusak pagar ayu keraton”, hakekatnya sengaja direncanakan untuk mencari alasan permusuhan alias pengabsah bagi Karangasem untuk melakukan penyerangan terhadap Lombok.
Kedua, kemungkinan lain raja Karangasem memang tidak melakukan rekayasa, tetapi murni ingin membangun persahabatan dengan Lombok termasuk dengan mengangkat saudara Mas Pakel. Tetapi, raja akhirnya termakan fitnah yang dibangun elemen kerajaan yang anti Islam dan anti Mas Pakel . Akibatnya, raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem benar-benar marah, mengusir/membunuh Mas Pakel, bahkan akhirnya melampiaskan kemarahan dengan melakukan perang penaklukan terhadap Lombok (Selaparang dan Pejanggik).
Pada tahun 1692-1696 M terjadi pemberontakan Banjar Getas. dalam pemberontakan tersebut Arya Banjar Getas meminta bantuan kerajaan Karangasem Bali, sehingga Pejanggik dapat dikalahkan. Raja Pejanggik Maspanji Meraja Sakti menghilang entah kemana rimbanya,dan seorang adiknya yang bernama Maspanji Komala Kusuma ditawan dan diasingkan, kemudian wafat di Ujung Karangasem. Sedangkan para bangsawan Pejanggik diantara Maspanji Meraja Kusuma mengungsi ke Sumbawa yang nanti keturunannya pulang kembali ke Sakre Lombok Timur,dan keturunan Pejanggik lainnya mengungsi ke tempat tempat yang aman di Pulau Lombok.Salah Seorang keturunan Datu Pejanggik yaitu adiknya dari Maspanji Meraja Sakti juga yang bernama Maspanji Komala Patria adiknya dari mengungsi ke tempat yang dianggap aman,yaitu sebuah tempat di dekat Batu Dendeng yaitu yang dikenal dengan daerah Penenges.Setelah beberapa tahun di Penenges dekat Batu Dendeng , dia menikahi seorang putri dari Kateng yaitu Putrinya Denek Laki Ukir yang dulu menjadi salah seorang patih Pejanggik .Dari pernikahan Maspanji Patria dengan Putrinya Denek Laki Ukir,dia menpunyai seorang putra yang bernama Maspanji Turu.
Setelah beranjak Dewasa Maspanji Turu pun menikah dan menpunyai tiga orang putra yaitu:
1-Denek Laki Nanggali menetap di Kateng dan beranak pinak di Kateng.
2-Denek Laki Suwa menetap di Mangkung dan beranak pinak di Mangkung
3-Denek Laki Paritu menetap di Ketangga dan beranak pinak di Ketangga.
D.KEDATUAN LANGKO
Pada pertengahan abad ke 16 M, Selaparang mencapai puncak kejayaannya, rakyatnya hidup tenang dan damai, antara satudesa, dukuh dengan desa, serta dukuh yang lainnya, hidup dalam nuansa persaudaraan, hukum Islam dijalankan secara murni. Dalam naskah Kotaragama yang berisi tentang peraturan-peraturan yang berlaku di kerajaan Surya Alam (kerajaan yang dimaksudkan adalah Selaparang) tarcantum bahwa sifat seorang raja harus selalu berpedoman pada syariat agama Islam, bersedekah (sosial), memberi pengayoman, tidak ingkar (disiplin), menuntut ilmu pengetahuan. Siapapun yang bersalah harus dihukum sesuai dengan ketentuan hukum Islam meskipun pada anaknya sendiri; (putra mahkota).
Suatu ketika, saat sedang berjalan, di halaman, secara tidak sengaja permaisuri raja bersenggolan dengan Raden Mas Panji (Ntramahkota). Raden Mas Panji kemudian memukul kaki ibu tirinya dan peristiwa itu menyebabkan kematian sang permaisuri. Hukum harus di tegakkan, maka raja memanggil seluruh pembesar kerajaan untuk memutuskan hukuman. Prabu Anom memberikan hukuman mati kepada putra mahkota tercinta. Prosesi hukuman mati kepada putramahkota dipercayakan kepada Patih Singarepa, tetapi sang patiht idak kuasa dan tiada mampu menjalankannya.
Akhirnya oleh Patih Singarepa, Raden Mas Panji diseberangkan ke Alas dan dititip kepada salah seorang Demung Alas yang menjadi sahabatnya. Itulah sebabnya bergelar Raden Mas Panji Tilar Negara (Tilar Negara artinya meninggalkan negaranya). Sekembalinya Patih Singarepa menjalankan tugas kemudian disampaikan kepada sang raja bahwa prosesi telah dilaksanakan sebagaimana petunjuk yang dititahkan.Raja Prabu Anom pun menangis sedih karena sangat sayangnya kepada sang putra mahkota.
Setelah wafatnya Prabu Anom kemudian Patih Singarepa meminta kembali Raden Mas Panji Tilar Negara untuk kembali keSelaparang. Patih Singarepa menyampaikan bahwa sebelummeninggal baginda mewasiatkan Raden Mas Pamekel sebagai pemegang tahta kerajaan. Mengetahui kejadian itu, Raden Mas Panji menerima keputusan dengan ikhlas dan merelakan adiknya menduduki tahta kerajaan. Setelah sampai di Lombok, Raden MasPanji Tilar Negara tidak ke Selaparang supaya adiknya mendapatkan ketenangan dalam memimpin kerajaan. la kemudian membuat pemukiman di Hutan Saba di atas Gunung Tembeng (sebelah selatanKopang sekarang). Patih Singarepa dengan setia mendampingi Pangeran Raden Mas Panji Tilar Negara. Pemukiman tersebut kemudian berubah menjadi pedukuhan yang disebut PedukuhanTembeng. Penduduknya hidup dengan tenang dan damai.Raden Mas Panji Tilar Negara dikawinkan dengan puteri Patih Singarepa.
Dalam perkawinannya itu, Raden Mas Panji memperoleh dua orang putera, yaitu Raden Pringganala dan RadenTerunajaya. Setelah dewasa kedua putra tersebut memiliki sifat dankegemaran yang bertolak belakang: Raden Pringganala sangat gemar mengumpulkan dan memelihara berbagai jenis burung, sementara Rade n Terunajaya sangat gemar mengumpulkan berbagai macamsenjata.Ketika Raden Mas Panji Tilar Negara meninggal dunia, beliau dimakamkan di daerah Tembeng. Sedangkan pemimpin pedukuhan digantikan oleh Raden Pringganala. Suatu hari RadenTerunajaya menasehati kakaknya supaya mau ikut mengumpulkansenjata, akan tetapi ditolak sehingga menimbulkan perselisihanantara keduanya. Raden Pringganala kemudian mengusir RadenTerunajaya dari Tembeng. Raden Terunajaya pun meninggalkanPedukuhan Tembeng dan membuat pemukiman di hutan Lengkukun.Di pemukiman tersebut beliau beserta para pengikutnya membangun masjid dan pasar. Pemukiman inilah yang kemudian berubah menjadi Kedatuan Langko dengan Raden Terunajaya sebagai pemimpinnya .
Raden Terunajaya berniat hendak memberikan pelajarankepada kakaknya akan arti pentingnya persenjataan. Maka disusunlah rencana penyerangan ke pedukuhan Tembeng. Teknik penyerangan diserahkan sepenuhnya ke Patih Singarepa. Strategi yang digunakan sangat sederhana yaitu mengumpulkan semuawanita, anak-anak, orang dewasa sebagai pembawa hewan piaraanseperti sapi, kambing, kerbau, kuda dan lain-lain. Sebagai lapisan terakhir adalah pasukan bersenjata lengkap dengan bedil, tombak, panah dan sebagainya. Strategi ini dilakukan karena RadenTerunajaya memang tidak menginginkan adanya korban jiwa. Hal ini juga sebagai rasa hormat dan sayang masih sangat mendalam kepada kakaknya.Pada tengah malam semua pasukan harus segeradiberangkatkan agar tiba di pintu gerbang Tembeng. PedukuhanTembeng dikuasai tanpa adanya perlawanan yang berarti. RadenPringganala pun menyerah. Beliau beserta para pengikutnya yangsetia disarankan untuk pergi dari Tembeng dan mencari pemukiman baru. Mereka pun mendirikan perkampungan Praubanyar di Lombok Timur sekarang.
Setelah menguasai Tembeng, maka Kedatuan Langko semakin luas dan meningkat menjadi kerajaan. Raden Terunajaya menjadi rajanya dan bergelar Prabu Langko. Raden Terunajaya mempunyai empat orang putera yang semuanya laki-laki. Masing-masing bernama: Raden Putra, Raden Natadiraja, Raden Ajiwayah dan RadenAjiundak. Sementara itu diberitakan juga bahwa sangkakak Raden Pringganala di Praubanyar juga sudah mempunyai 4(empat) orang putri yang masing-masing bernama: Denda Suparta,Denda Suparah, Denda Supadan dan Denda Supayang. Patih Singarepa menyarankan agar menyambung kembali persaudaraan yang lama terputus dengan jalan mengawinkankeempat putra Raden Terunajaya dengan keempat putri dari Raden Pringganala, Anjuran tersebut diterima dengan lapang dada.Akhirnya bertautlah persaudaraan Kerajaan Langko dan Praubanyar.Keempat pasangan tersebut adalah:- Raden Ajiundak beristrikan Denda Supayang.- Raden Ajiwayah beristri Denda Supadan.- Raden Natawijaya beristri Denda Suparah.- Raden Putra beristri Denda Suparta.
Raden Ajiwayah diangkat sebagai putra mahkota danmenggantikan Raden Terunajaya sebagai Prabu Langko. Kemudian raja ini mempunyai anak bernama Raden Suryanata. RadenTerunajaya dan Path Singarepa meninggal dan dimakamkan di Langko. Pada masa kekuasaan Raden Ajiundak pemerintahansemakin mundur sehingga penyerangan Karangasem yang bergabungdengan Arya Banjar Getas tidak dapat ditangkal. Akhirnya kerajaan Langko pun menyerah kalah.
E-KEDATUAN SOKONG
Penetapan nama desa Sokong, Nama sokong yang awalnya bernama SUKUN, setelah pase pengembangannya pada tahun 1343 Kiyai Nala/Empu Nala atau di Bali lebih dikenal dengan Arya Dhamar datang ke Lombok dan menurunkan bagian dari tokoh yang disebut Datu Besanakan Telu / Tiga Bersaudara yaitu :
(1)- Betara Mas Kerta Jala di Sulawesi,
(2)- Betara Mas Indra Sakti di Klungkung, Bali,
(3) -Betara Mas Tunggul Nala di Lombok.
.
Betara Mas Tunggul Nala menurunkan datu-datu Lombok seperti Bayan,
Selaparang dan Pejanggik. Betara Mas Tunggul Nala mempunyai dua orang putra
yaitu
1.- Deneq Mas Muncul yang menurunkan datu-datu Bayan.
2.- Deneq Mas Putra Pengendengan Segara Katon mendirikan Kedatuan
Kayangan (Labuan Lombok) menurunkan datu-datu Selaparang dan Pejanggik yaitu
(a) Sri Dadelanatha,menjadi Datu Langko
(b) Deneq Mas Komala Dewa Sempopo,menjadi Datu Pejanggik
(c) Deneq Mas Komala Jagat menjadi Datu Selaparang
Pada Awalnya Sokong dikenal nama SUKUN berubah menjadi nama SOKONG.Di dalam Kitab Negarakertagama karangan Empu Pranpanca pada pupuh ke 14 yang berbunyi "Sawetan ikanaɳ tanah jawa muwah ya warnnanen, ri balli makamukya taɳ badahulu mwan i lwagajah, GURUN makamukha SUKUN / ri taliwaɳ ri dompo sapi, ri saɳhyan api bhima çeran i hutan kadaly apupul.Muwah tan i GURUN sanusa manaran ri lombok mirah, lawan tikan i SAKSAK adinikalun / kahajyan kabeh, muwah tanah ibanatayan pramukha banatayan len / luwuk, tken uda makatrayadinikanaɳ sanusapupul..
" Yang artinya sebagai berikut,
"Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah, GURUN serta SUKUN, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo, Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.PULAU GURUN, yang juga biasa disebut LOMBOK MIRAH, Dengan daerah makmur SAKSAK diperintah seluruhnya, Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, Sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk"
Laksamana angkatan laut Majapahit Empu Nala datang tahun 1343 M untuk melakukan expedisi ke Lombok,melalui Lombok Utara dan dilanjutkan dengan ekspedisinya ke bagian timur ke Sumbawa dan Sulawesi.Ketika pemerintahan Ratu Ramadha Wardani (Majapahit). Maha Patih Gajah Mada melakukan inspeksi ke Lombok untuk melaksanakan Sumpah Amukti Palapanya pada tahun 1352M (sumber Piagam Manggala). Sokong juga dikenal sebagai wilayah tengah yang dikenal dengan nama Lombok Tengah pada waktu itu. Gajah Mada melakukan perjalanan dari Labuhan Carik Bayan .Penjor dan dilanjutkan ke barat lewat darat .
Pada saat inspeksi tersebut Gajah Mada meresmikan berdirinyabeberapa kedatuan di Lombok Utara, antara lain :
1- Kedatuan bayan
2-Kedatuan Sokong,
Kedatuan Sokong berpusat di Dusun Selelos/Bebekek yaitu berada di wilayah Kecamatan Gangga.Adapun petilasan dari Kedatuan Sokong saat ini masih tersisa di Hutan Bebekek (Bebengkek atau Blengkek)..Pada perkembangannya Kedatuan Sokong ini dibagi menjadi dua bagian yang menjadi pemisahnya adalah kali sokong. Dari timur kali sokong sampai ke Desa Bebekek adalah “Sokong Belimbing”, sedangkan dari barat kali sokong sampai daerah Mambalan (kecamatan Gunung sari) adalah Sokong “Kembang Dangar”.
Gajah Mada melanjutkan perjalanan ke barat yaitu ke keluak (sungai Keluak di desa sokong sekarang),Ampenan,Perigi (Gerung) ,Sedau (narmada).Teros (Lombok timur),Pulau Sumbawa dan tercatat dalam kitab Kertagama. Sepanjang perjalanan Gajah Mada meresmikan berdirinya kedatuan-kedatuan seperti
1- Kedatuan Selaparan
2-Kedaro
3-Batu Dendeng
4-Teros
5-Sumbawa
F-KEDATUAN PUJUT
Pujut merupakan wilayah kedatuan (kerajaan kecil) yang diperkirakan berdiri pada tahun caka 1255 ,perkiraan tahun berdirinya kedatuan pujut ini diambil dari sumber lontar yang berbahasa sasak berbunyi “Kengkang Pelapak Gedang Lembah Gunung Pujut dait Gunung Tengak dait Pelembah Polak Due”. Kengkang melambangkan angka 1, Pelepak Gedang Polak melambangkan angka 2, Gunung Pujut melambangkan angka 5 dan Gunung Tengak melambangkan angka 5, sehingga jika angka ini digabungkan akan membentuk angka caka 1255.
Kedatuan pujut didirikan oleh seorang bangsawan Majapahit yang bernama Ame Mas Meraje Mulie dan menikah dengan puteri kerajaan Kelungkung Bali. Setelah melangsungkan pernikahan oleh mertuanya Ame Mas Meraje Mulie disuruh oleh mertuanya untuk bersemedi di sebuah pulai ditimur Bali, pulau itu sekarang di sebut Nusa Penide (Penida berasal dari kata Penede artinya tempat memohon kepada Tuhan YME). Dalam semedinya beliau mendapat wangsit untuk berlayar ketimur dan apabila dalam pelayaran tersebut melihat cahaya di daratan maka disanalah tempat tinggalnya. Berdasarkan wangsit tersebut akhirnya bersama istri dan pengiringnya melakukan peleyaran ke arah timur dan akhirnya menemukan tanah petunjuk tersebut yaitu disebuah Bukit didataran bagian selatan Lombok yang kita kenal sekarang sebagai Gunung Pujut.
Mas Meraje Mulie menganut paham Shiwa-Budha yang menjadi agama resmi di Majapahit, dengan demikian maka setibanya di Gunung Pujut ia mendirikan tempat pemujaan Shiwa-Budha yaitu Diwe Dapur, Diwe Pujut, Diwe Peringge dan Diwe Jomang dan membuat kampung bernama Tuban untuk mengenang asalnya dari Kadipaten Tuban Wilayah Kerajaan Majapahit. Kalau memang betul Ame Mas Meraje Mulie berasal dari Kadipaten Tuban maka dapat dipastikan bahwa ia masih merupakan keturunan Raja Daha Kediri dari garis keturunan Airlangga pendiri kerajaan Kediri.Dari hasil pernikahannya dengan Puteri Kelungkung Ame Mas Meraje Mulie memiliki satu orang putra yaittu Ame Mas Mayang. Ame Mas Mayang memiliki empat orang putra/putri yaitu Sri Meraje Tinauran, Meraje Gune, Meraje Pati dan Meraje Tinolo. Meraje Gune memiliki seorang putra yaitu Meraje Galungan dan Meraje Pati memiliki seorang putra bernama Meraje Olem. Meraje Olem inilah yang menjadi Datu Pujut yang ke empat.
Meraje Olem memiliki dua orang putra/puteri yaitu Sri Mas Jaye Diguna atau biasa disebut Balok Gare dan Sri Mas Jaye Wire Sentane atau biasa disebut Balok Pait.
Pada masa pemerintahan Meraje Olem agama Islam sudah berkembang dengan pesat di seluruh Nusantara termasuk pulau Lombok yang dibawa oleh para Waliyullah dari tanah Jawa atau biasa dikenal dengan nama Wali Songo.
Meraje Olem suatu ketika berangkat ke tanah Jawa untuk mengunjungi tanah leluhurnya dan disana Meraje Olem sangat tertarik dengan agama Islam sehingga ia memeluk agama Islam dan belajar kepada Wali Songo. Setelah mempelajari Islam Meraje Olem kembali ke Pujut dan mengajarkan ajaran Islam kepada rakyatnya. Dibantu oleh Wali Yatok ia menyebarkan agama Islam tidak saja kepada masyarakat Pujut tetapi juga kepada kedatuan-kedatuan disekitarnya.
Sebagai tempat ibadah maka pada tahun caka 1509 atau 1587 M atau 1008 H Meraje Olem mendirikan Masjid di puncak Gunung Pujut (pada ketinggian 400 mdpl). Masjid Gunung Pujut sendiri memiliki desain arsitektur yang unik dan dapat ditandai dari bentuk atap 2 cungkup seperti masjid demak, bangunan masjid tidak memiliki jendela dengan satu pintu kayu didepan dan berdinding sangat pendek yaitu 1,5 meter sehingga untuk memasuki masjid maka harus menundukkan kepala.
Bentuk arsitektur yang seperti ini barangkali memiliki makna-makna makrifat yang perlu untuk dikaji lebih dalam. Masjid Gunung Pujut memiliki ukuran 9 x 9 meter dengan empat buah tinga besar (agung) didalamnya yang menyokong kuncup atap atas.
Tahun meninggalnya meraje olem tidak banyak diketahui oleh masyarakat, tetapi setelah meninggal Meraje Olem dimakamkan di sebelah utara Gunung Pujut yang biasa disebut sebagai Makam Sempane. Untuk menandakan bahwa Meraje Olem telah memeluk agama Islam maka diatas makamnya ditanami oleh 9 buah pohon Kamboja yang sampai sekarang masih tumbuh dengan baik.
Masih banyak sejarah yang dapat digali terkait dengan Masjid Kuno Gunung Pujut antaranya adalah makna/simbol makrifat dalam arsitektur Masjid, kitab-kitab makrifat dalam bentuk daun Lontar, dan peran tokoh-tokoh Pujut dalam penyebaran ajaran Islam seperti Balok Gare, Balok Tui, Balok Senggal Jepun, Balok Serte, Balok Suralangu dan lain lain.
G-KEDATUAN BANJAR GETAS
Sri Airlangga kemudian menurunkan
1-Sri Jayabaya menjadi Raja Kediri yang terkenal dengan ramalannya dalam kitab Jangka Jayabaya.
2- Sri Jayabasha menjadi Raja Jenggala yang keturunannya menjadi seoarang Maha Menteri di
Kerajaan Majapahit yang bernama Adwaya Brahma yang menikahi Dara Jingga yang melahirkan enam orang putra diiantarannya Arya Damar /Kiyai Nala yang menurunkan raja Selaparang,Pejanggik,Bayan dan Langko di Lombok.
Sri Jaya Baya memiliki tiga orang putera yakni
1-Sri Dangdang Gendis,
2-Sri Jayakatong
3-Sri Jayakatha.
Selanjutnya dari Sri Jayakatha menurunkan tiga orang anak yaitu:
1-Arya Wayahan Dalem Menyeneng,
2-Arya Katnagaran
3-Arya Nudhata.
Dari keturunan inilah kemudian menurunkan Arya Gajah Para dan Arya Getas yang kemudian di dalam babad Arya Gajah Para disebutkan setelah kembali dari Jawa, menetap hingga memiliki keturunan 3 (tiga) orang, oleh raja Gelgel kemudian Arya Getas diperintahkan menyerang Seleparang.
Merunut hirarki generasi raja-raja Singasari-Majapahit .maka keturunan ke empat atau kelima dari Tunggul Ametung),yang setara dengan Arya Getas adalah Jayanegara dengan angka tahun saka (1231-1250 Ck/1309-1389 M) .
Dalam catatan sejarah, pada abad ke-14 adalah masa pemerintahan Raja Hayamuruk,dan terdapat informasi, bahwa sekembalinya dari sebuah pertemuan dengan raja-raja se Nusantara di kerajaan Majapahit, Raja Gelgel di berikan 40 orang pakadan (orang biasa) yang beragama Islam.oleh Raja Hayamuruk.Orang-orang tersebut selanjutnya ditempatkan di Desa Gelgel (Wawancara dengan tokoh agama Islam Desa Gelgel. Apakah Arya Getas adalah salah satu yang ikut diantara 40 orang yang kini menurunkan warga Desa Gelgel, tentu hal ini memerlukan penelitian lebih jauh.
Dari sumber yang termuat dalam babad Arya Gajah Para, ada beberapa hal yang perlu untuk diperjelas.
Masa sebagaimana perkiraan tahun yang dibuat berdasarkan urutan geneologi merujuk pada genealogi raja Singasari-Majapahit menunjukkan bahwa masa Arya Getas dalam Babad tersebut adalah sekitar abad ke 14, sementara keruntuhan Pejanggik dan Seleparang yang melibatkan Arya Banjar Getas terjadi antara tahun 1722-1725. Sumber lain, dikemukakan oleh Agung , yang sepertinya merujuk kepada Babad Arya Gajah Para “Treh dari Arya Gajah Para (Arya Getas-pen-) di Bali. Keberadaannya di Lombok ialah menjadi telik tanem (mata-mata) raja Bali (dalem) Gelgel untuk mengetahui keadaan dan perkembangan di Lombok.
Arya Banjar Getas datang ke pulau Lombok dari Jawa Timur dengan membawa pengiringnya. Mula-mula mereka singgah dikerajaan Sokong Tanjung di Lombok Utara sekarang. Arya Banjar Getas ditugaskan untuk membuat patung, akan tetapi patung yang dibuat menimbulkan kecurigaan Datu Sokong. Arya Banjar Getas pun disingkirkan dari Sokong. Kemudian Arya Banjar Getas bergerak ke timur hingga sampai di Wanasaba (itulah sebabnya diWanasaba ada sebuah desa bernama Banjar Getas). Di Wanasaba ia sakit, kemudian ia pun bernazar jika ia sembuh kelak maka ia akan menghadap ke raja Selaparang. Di kerajaan Selaparang ia pun jugamenemukan nasib yang kurang baik. Akhirnya Arya Banjar Getas juga disingkirkan dari Selaparang.
Hal itulah yang membuat Selaparang benci terhadap Pejanggik karena menerima Arya Banjar Getas sebagai ptih.Kerajaan Selaparang bersama Amasa Samawa berhasil mengusir Arya Banjar Getas (Aria Sudarsana) sampai di Pagutan. Dari Pagutan Arya Banjar Getas bergabung dengan kerajaan Pejanggik. la kemudian banyak membantu Pejanggik dalam melebarkan sayap kekuasaannya dengan menggunakan politik Rerepeq. Politik Rerepeq yang dijalankan terus berlanjut hingga ke Mambalan dan Sokong.
Sebelum politik Repepeq sampai ke Bayan, raja Pejanggik justru mengambil kebijakan untuk membersihkan wilayahnya dari pengaruh Pagesangan dan Pagutan.Kerajaan KarangAsem Bali yang memang ingin menguasai kerajaan-kerajaan di Lombok mendarat di Pantai Padang Reak. Hal ini dimanfaatkan oleh Arya Banjar Getas dengan meminta bantuan Karang Asem untuk menyerang Pejanggik dan Selaparang.Kemenangan Arya Banjar Getas dan Karangasem dalam peperangandi Tanaq Beaq menyebabkan hubungan keduanya semakin baik.Hubungan baik tersebut dituangkan dalam sebuah sumpah bahwamereka akan selalu bergandengan tangan secara damai turun-temurun.
Kemudian keduanya membuat perjanjian yang dikenal dengan "Perjanjian Timur dan Barat Juring". Isi perjanjian tersebut adalah, untuk bagian barat dimiliki dan dikuasai oleh Karangasemsedangkan bagian sebelah timur dimiliki dan dikuasai oleh Arya Banjar Getas.Batas antara kedua bagian tersebut adalah Sungai Pandan,Sweta Penanteng Aik, Pelambik, Ranggagata, dan Belongas. Raja Karangasem menempatkan wakilnya I Wayan Tegeh dengan ibu kotaTanjung Karang, kemudian dipindah ke Mataram. Sedangkan Arya Banjar Getas mendirikan kerajaannya di Memelaq dan menguasai wilayah Batu Kliang, Puyung serta Praya.
Langkah Awal yang dilakukan Arya Banjar Getas adalah mengkonsolidasikan kekuasaannya ke wilayah-wilayah kedemunganyang semula dikuasai raja Pejanggik dan dijadikan sebagai pemegang kekuasaan di daerahnya dengan sebutan "Perkanggo"(penguasa). Kemudian kebijakan Arya Banjar Getas adalah membangun masjid, pasar serta pelaksanaan syariat Islam secaramurni, rakyatnya tidak dipunguti pajak.Selama pernerintahannya, Arya Banjar Getas membagi wilayah kekuasaan kepada putra-putrinya maupun menantunya yaitu:
1.-Dende Wirachandra dikawinkan dengan Panji Langko dan diberiwilayah kekuasaan meliputi Mujur, Marong, Ganti hingga ke lautsebelah timur.
2.-Raden Juruh diberi kekuasaan untuk memerintah di Batukliang akan tetapi, kerjasama Arya Banjar Getas dengan Karangasem Bali tidak mendapatkan restu dari datu-datu di daerah Lombok.
Oleh sebab itu, dalam pemerintahannya banyak datu-datuyang melakukan pemberontakan, antara lain:
1-Pemberontakan Datu Bayan dan Datu Buluran. Kedua raja ini menyerbu Pringgabaya namun serangan itu dapat ditahan dan keduanya tewas dalam pertempuran tersebut.
2- Pemberontakan Datu Kadinding tetapi juga dapat dipatahkan.
3- Pemberontakan Datu Semong Moh Jalaluddin, raja Sumbawa. Datu Semong tewas karena pengkhianatan saudaranya. Perang ini dilanjutkan oleh pembantu-pembantunya sampai tahun 1725 M.
4-Pemberontakan Selaparang, yang juga dapat dipatahkan dan sebagian rakyatnya diboyong ke Sekarbela, Dasan Agung dan Rembiga.Keberhasilan Arya Banjar Getas dalam menangkal setiap serangan dari luar memang lebih dikarenakan bantuan Gusti Ketut Karangasem.
Adapun penyebab keruntuhan Kerajaan Arya Banjar Getas adalah:
1- Banyak kekacauan terjadi sehingga tidak berkesempatan untuk membangun dan menata wilayah kekuasaannya sebagaimanamestinya.
2- Karangasem ingkar janji terhadap sumpah yang pernah dilakukan. Banyak wilayah kekuasaan Arya Banjar Getas yang diambil alih.
3- Ketika Arya Banjar Getas meninggal, putra-putra penggantinya kurang memiliki kemampuan dalam menata kerajaan.Sedangkan yang menjadi raja selanjutnya adalah:
1-Raden Ronton.Dalam kepemimpinannya, Raden Ronton memindahkan ibu kotake hutan Berora yang berubah menjadi Praya.
2-Raden Lombok Raden Lombok memperistri puteri raja Sokong Prawira.
Dari perkawinan tersebut lahir seorang putera bernama Dene' Bangli. Pada masa pemerintahan Deneq Bangli terjadi pemberontakan Demung Selaparang yang dibantu oleh komplotan bajak laut.
Untuk menumpas pemberontakan itu diperintahkanlah paman Deneq Bangli untuk mengejar komplotan bajak laut itu sampai ke Sumbawa. Dalam pengejaran ini, sesampai di Labuan Lombok, paman Deneq Bangli menderita sakit kemudian meninggal duniadi Ketangga. Beliau disebut Raden Hang Ketangga. Dene' Banglidiganti oleh puteranya bernama Raden Mumbul.
3-Raden Mumbul Raden Mumbul gugur dalam suatu perang tanding denganDemung Bone Mamben memperebutkan seekor kuda belang panji. Setelah Raden Mumbul meninggal maka ia digantikan Raden Wiratmaja.
4-Raden Wiratmaja Pada masa pemerintahan Raden Wiratmaja daerahnya banyak mendapatkan tekanan dari Karangasem. Karangasem memaksarakyat membayar upeti sehingga timbullah Perang Praya pertama.
Peperangan Praya I ini merupakan titik awal berakhirnya kerajaan Arya Banjar Getas tepatnya pada tahun 1841 M. Dengan demikian, pada akhir abad ke-18 sampai permulaan abad ke 19 M,kerajaan Karangasem berhasil menjadi kerajaan terkemuka di Bali. Kerajaan Karangasem Lombok Bagian Barat membentuk kerajaan Mataram dan kerajaan Singasari. Pada era inilah terjadi migrasi besar-besaran orang-orang Bali ke pulau Lombok.
H-KEDATUAN SAKRA
Perang Pejanggik Mas Meraja Sakti, dengan pihak Banjar Getas yang di bantu Anak Agung Karangasem berlangsung pada tahun 1692 M,dengan runtuhnya Pejanggik ,dan Pemban Maspanji Meraja Sakti ( Datu Pejanggik ) ditawan dan di buang ke Ujung Karangasem Bali . Sedangkan seorang puteranya yang Maspanji Meraja Kusuma tidak diperkenankan ikut berperang oleh ayahandanya,Maspanji Meraja Kusuma,tidak berani membantah perintah ayahnya. dan la menyelamatkan dirinya ke Sumbawa,dan banyak dari keturunan Pejanggik yang mengungsi ke daerah daerah aman di di Pulau Lombok,
Maspanji Meraja Kusuma bercita cita dapat merebut kembali tongkat kekuasaannyayang hilang. Beliau diiringi oleh sebagian pengawalnya, dan secara khusus dilindungi oleh benteng Petak Purwadadi yang kuat. Beliau menetap dan membuka pemukiman baru sebagai perintis imigranLombok di pulau Sumbawa bagian barat dan mendirikan desaJelenga di wilayah kecamatan Jereweh sekarang.Merasa telah dilecehkan, beliau sendiri bersumpah tidak akanmenginjakkan kakinya di pulau Lombok. Tetapi beliaumempersiapkan generasi penerusnya, Pemban Penganten Purwadadi sebagai putra mahkota pada generasi ke XI. la dinobatkan sebagairaja dalam pengasingan didampingi oleh adiknya,
Deneq Laki Mas Orpa, dan saudara dari selir, Rade Nune Ratmaja Tember.Setelah kerajaan Purwadadi sebagai benteng terakhir Pejanggik dapat dihancurkan oleh Karangasem dan Banjar Getas, para prajurit melarikan diri ke hutan-hutan sekitarnya, sebagian lagi menyusul ke Sumbawa.Merasa sudah mapan, pihak Karangasem merasa curiga atas perkembangan Banjar Getas. Mereka mengetahui bahwa dendam Pejanggik lebih besar kepada Banjar Getas daripada Karangasemsendiri. Maka mereka pun mengirimkan utusan untuk mempersilahkan Pemban Penganten Purwadadi kembali ke Lombok dengan syarat mau menjalin hubungan baik dengan Karangasem dan bila suatu saat diperlukan bersedia untuk bersama-sama menghadapi Banjar Getas.Pada mulanya Pemban Penganten Purwadadi menolak rencana tersebut.
Akan tetapi, mengetahui mulai adanya persaingan antara Banjar Getas dengan Karangasem, maka secara diam-diam beliau mengirimkan para pengiringnya, termasuk ibu tirinya dengan membawa serta Raden Nuna Ratmaja Tember yang masih kecilsebagai lambang dan wakil sementara. Mereka mengambil tempat diGawah Pengkalik Tanaq, di seberang kali utara Purwadadi. Tempatinilah yang dianggap sebagai cikal bakal berdirinya kerajaan baru yang sekitar tahun 1870 M diberi nama Sakra.
Didukung oleh para demung yang di zaman Pejanggik dulu merasa kecewa tetapi akhirnya merasa prihatin karena kehilangan pemimpin, dengan cepat daerah Sakra pun berkembang.Beberapa tahun kemudian Pemban Penganten Purwadadimemerintahkan adiknya Deneq Laki Mas Orpa menyusul pulang keLombok, menempati sisi selatan yakni di daerah Pijot yang dianggap lebih mudah untuk menjalin hubungan ke Sumbawa.
Terakhir baru putra Pemban Penganten sendiri, Pemban Ilang Mudung yang juga menjaga dan menempati pesisir timur.Sebelum kembali ke Lombok, Pemban Ilang Mudung telahkawin dengan seorang putri bangsawan Sumbawa. Perkawinan tersebut melahirkan dua orang putra yakni Lalu Jelenga dan Lalu Centung yang tetap tinggal di Sumbawa menemani ibu beserta kakeknya yang sudah sepuh, Pemban Penganten Purwadadi.Sedangkan dari hasil perkawinan di Lombok, beliau belum berputra.Raden Dirangsa menemani ayahnya di Mudung Korleko. Adik-adiknya yang memperkuat Sakra terdiri dari Raden Gde Angir,Raden Nuna Gde Lancung dan Raden Pagutan.Sedangkan Deneq Mas Orpa, mempunyai seorang putri hasil perkawinannya dengan bangsawan Sumbawa. putri itu bernama putri Bini Ringgit yang nantinya cukup memberikan peranan dalamsejarah Sakra, bahkan Lombok pada umumnya.
Pada tahun 1800 M datanglah rombongan dari Gowa di bawah pimpinan Karaeng Manajai, menapaktilasi dan menilik keadaan bekas wilayah kekuasaan Gowa, Manggarai, Bima, Dompu,Sumbawa dan Lombok. Di Lombok, beliau menemukan Selaparang yang sudah runtuh dan menyaksikan jejak jejak kerajaan Pejanggik yang masih mempunyai hubungan darah dengan Selaparang.
Dari Labuan Lombok beliau kemudian berlayar menuju Labuan TanjungLuar menemui Deneq Laki Mas Orpa. Terjadilah kesepakatan perkawinan yang berbau politik antara Pemban Bini Ringgit, putridari Deneq Laki Mas Opra dengan Karaeng Manajai. Sebelum perkawinan itu dilangsungkan, Karaeng Manajai kembali dulumenyelesaikan urusannya di Goa
Pada tahun 1805 M iakembali untuk menetap di Lombok dan kawin dengan Pemban BiniRinggit. la ditugaskan di wilayah Ganti yang berbatasan dengan Banjar Getas. Perkawinan tersebut menghasilkan seorang putra bernama Dewa Mas Panji Komala yang nantinya dalam usia yangsangat muda, memimpin perlawanan pertama Sakra terhadapkekuasaan Karangasem. Seorang lagi putri hasil perkawinan Karaeng Manajai dan Pemban Bini Ringgit bernama Denda Bini Nyanti.Sebagai keturunan seorang pengembara, sejak muda DewaMas Panji Komala sudah memisahkan diri dan tinggal di Beleka. Halitu dilakukan juga atas perasaan kecewanya akibat ketegangan antara orang tuanya.
Ibunda Dewa Mas Panji Komala, Pemban BiniRinggit, merasa dilecehkan atas pernikahan Karaeng Manajai denganseorang gadis dari Gelanggang bernama La Bunga.Perkawinan antara Pemban Bini ringgit dengan Karaeng Manajai dari Goa ternyata cukup meresahkan para musuh bebeyutannya, yakni kerajaan-kerajaan di Bali. Mereka resah dan sangat mengkhawatirkan kondisi Karangasem yang sedang dilanda persoalan internal antar puri dan berpotensi terjadi perang saudaraantara Mataram, Pagesangan, Pagutan dan Singasari yang dianggaplebih tua.
Oleh karena itulah pihak Karangasem segera mendekatiSakra serta menuntut perlakuan yang sama melalui perkawinan politik. Agaknya yang diincarnya adalah Dende Bini Nyanti. Tetapi pihak Sakra justru hanya mengirimkan puluhan gadis dari kalanganorang biasa saja untuk dipilih, semuanya pun lantas ditolak dan dikembalikan.
Raja Karangasem kemudian menyatakan akan datang sendiri dengan segala kehormatan dan kebesarannya.Menyikapi rencana raja Karangasem tersebut, terjadilah silang pendapat dan pengelompokan. Mereka yang moderat darikalangan para tetua, terutama Karaeng Manajai sendiri, berpendapatsebaiknya tawaran raja Karangasem tersebut diterima dengan sikap politis juga. Hal itu dilakukan untuk mempersiapkan diri terhadapkemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Apabila memang sudahwaktunya untuk merebut kembali tongkat yang hilang bisa denganmudah merebutnya dari pihak karangasem yang terancam perangsaudara, bila perlu meminta bantuan Sumbawa dan Goa untuk mencapai tujuan itu.
Disamping itu, jika Karangasem benar-benar dilanda perang saudara, siapa tahu melalui perkawinan bisaditaklukkan tanpa kekerasan.Di lain piha lk-, terutama di kalangan orang-orang muda,muncul sikap militansi yang justru dluukung oleh Pemban BiniRinggit yang kecewa terhadap suaminya. Bahkan karenakejengkelannya tersetut, ia menyebut suaminya orang luar yang tidak tahu perasaan rakyat dan kawula bala yang setia dan siap matimembela kehormatan kerajaan Sakra penerus Pejanggik.
Menurut Pemban Bini Ringgit, sekaranglah waktu yang tepat memanfaatkan tidak rukunnya puri Singasari dengan para saudaranya.Demikianlah, diam-diam Sakra mempersiapkan diri menghubungi berbagai pihak yang , diharapkan akan memberidukungan. Bahkan untuk bisa menarik dukungan Sumbawa, Gowa dan orang-orang pesisir pantai, Dewa Mas Panji Komala bersama ibudan adiknya ditarik masuk , Sakra. Dalam usianya yang sangat muda,sekitar 16 tahun, Dewa Mas Panji Komala diangkat menjadi raja,sebagai lambang pemersatu sekaligus sebagai senopati perang.Gerakan dimulai dengan membersihkan wilayah timur. Desa-desa yang bersikap setengah hati dalam memberikan dukungan,digempur dengan kekerasan, para pemimpin beserta anak¬istrinya disandera dan dibawa ke Sakra. Meskipun kaget, Karangasem bergerak cepat. Mereka berhasil meredam dan menunda perselisihansesama mereka. Jika benar-benar menang, pihak Sakra tidak akan pilih bulu untuk menghancurkan saudara-saudara kerajaan Karangasem yang ada.
Pihak Karangasem menduduki Mendana,Mujur dan Kopang. Meskipun Mendana, Mujur dan wilayah selatan berhasil dibersihkan kembali, akan tetapi Kopang dibuat sebagai benteng pertahanan yang sangat kuat, sehingga Raden Bendesa di Kopang tidak dapat berkutik.Terlalu muda sebagai pemimpin dan tanpa wawasan sertastrategi perang yang mapan memang sangat berpengaruh terhadapkualitas kepemimpinan Dewa Mas Panji Komala, terutama di dalam pengambilan keputusan. Desa-desa yang telah dibebaskan tidak diduduki, dan ketika gagal menembus Kopang, para pasukan Sakramalah kembali pulang.Konsolidasi kekuatan hanyalah berbentuk mengumpulkanorang sebanyak-banyaknya bertumpuk di desa Sakra tanpa gerakanlanjutan.
Bebasnya wilayah timur dan terkumpulnya kekuatan yang besar membuat mereka puas dan merasa diri telah menang. Nasihatyang tua-tua karena terlanjur bergerak haruslah terus menyerangtidak digubris bahkan dijawab: "Kalau memang benar Bali itu jantan,silahkan dia datang, kita tunggu disini saja".Pusat desa memang ditata, dilengkapi petak jonggah yangkuat. Puri yang ada sebelumnya diperbaiki, begitupula tempat tinggalibu suri Pemban Bini Ringgit bersama sang raja Dewa Mas PanjiKomala. Memang benar, Dewa Mas Panji Komala mempunyaikharisma yang sangat kuat, berwibawa dan pemberani, namuncenderung nekat tanpa perhitungan.
Terpaksalah yang tua-tua bergerak sendiri dengan kekuatan terbatas mengusir kelompok-kelompok kecil prajurit, Karangasem yang masuk mengganggu desa-desa yang telah dibersihkan.Gangguan-gangguan itu merupakan strategi yang tepat agar Sakra terus sibuk, sementara Karangasem mempersiapkan diri untuk serangan balik yang mematikan. Sebaliknya di pihak Sakra malahmerasa puas, sibuk berpesta pora mabuk-mabukan.
Beberapa kali serangan besar yang dicoba Karangasem memang selalu dapatdipatahkan, tetapi mereka tidak tahu bahwa pihak Karangasemsedang mempersiapkan diri dengan prajurit yang lebih teratur dan profesional serta dilengkapi dengan taktik dan strategi yang cukup jitu.
Karangasem menyadari, kendati pun Sakra yang semulahanya daerah kecil di wilayah kekuasaannya, akan tetapi memilikiketangguhan yang lebih dibandingkan Pejanggik.Sakra sangat solid,merupakan pedaleman tunggal dan tidak memiliki pedaleman lain di bawahnya, oleh karena itu wilayahnya sangat utuh. Maka tidak mudah mengalahkan Sakra dengan kekuatan konvensional. Dengan demikian Karangasem benar-benar mempersipakan diri. Berbagai perlengkapan senjata seperti bedil dan kapal (dengan nama Sri Cakra dan Sri Mataram) dibeli dari Singapura.
Selain itu, untuk menambah kekuatan didatangkan pasukan dari Karangasem dan Kelungkung.Karangasem memerlukan persiapan sekitar tiga tahun untuk dapatmelawan Sakra sambil melancarkan serangan-serangan kecil kewilayah Sakra. Seolah-olah hanya kekuatan kecil itu yang dimiliki Karangasem, hingga saat itu pun tiba.Serangan balik dilancarkan oleh Raja Muda Mataram A.A Gde Karangasem. Satu demi satu desa diserang oleh Karangasem yang dilengkapi senjata bedil.
Tiap desa yang dilalui penduduknya dipaksa menjadi tameng. Sebagai prajurit profesional, mereka tidak langsung menusuk ke jantung pertahanan Sakra, melainkan mengggelar strategi Sapit Urang untuk mengepung Sakra.Setelah melalui Rarang, Suradadi, Padamara, maka pangkalan di Kopang dipindahkan ke Masbagik. Setelah itu menaklukan Penede Gandor, mereka pun memasuki wilayah Surabaya.
Meskipun PeSiraga Perkanggo Surabaya yang perkasa itu melakukan perlawananyang gagah berani, akan tetapi tidak berdaya menghadapi pasukanyang lengkap bersenjata bedil. Keadaan itu memaksa Pe Siraga Lokasi desa Sakra memang dipilih dengan pertahanan dikelilingi oleh kali yang dalam di sebelah timur, sisi selatan dan barat. Sedangkan di sebelah utara berderet bukit-bukit sebagai benteng alam.
Pasukan dari Kelungkung setelah menyapu Mujur, Ganti, dan Beleka maju terus melalui Jerowaru dan Mendana. Lalu berhenti berkemah di sebelah barat sebelah kali Palung yang dalam.Di sebelah timur tepatnya di bukit Selong, berkemah para prajurit Pagutan dan Pagesangan. Barulah kemudian pasukan induk menduduki bukit-bukit di sebelah utara untuk perang urat saraf dimalam hari dengan menggelar pesta dan mendatangkan penari Joget.A.A. Gde Karangasem menerapkan strategi Gelar Perang Garuda Ngelayang. Para prajurit tameng yang terdiri dari orang-orang Sasak,mereka juga ditugaskan untuk terus menerus membuat gangguandengan serbuan setiap hari. Pengepungan yang berbulan-bulan tanpaserangan besar-besaran benar-benar menyebabkan prajurit Sakramen jadi frustasi.
Orang Sakra yang tidak mengerti strategi perangmerasa tak habis pikir ketika siang dan malam pihak Bali terusmenerus menembakkan bedilnya, Pipian Langit, dan ditertawakan sebagai orang kaya yang membuang-buang mesiu. Mereka tak mengerti strategi perang urat saraf sementara bantuan yang diharapkan dari Goa dan Sumbawa tak kunjung datang karena kurang koordinasi.
Akhirnya prajurit Sakra tak punya pilihan lain kecuali keluar mengamuk tanpa aturan melawan prajurit-prajurit Sasak sendiri yangdipergunakan sebagai tameng hidup oleh prajurit Bali. Sementara orang Bali sendiri berada pada barisan belakang mempergunakan senjata lengkap. Pada pertempuran tersebut, Raden Nuna Gede Lancung beserta saudaranya gugur di sisi barat.
Sementara di sebelah timur yang dipertahankan oleh Raden Benta, Raden Mombek, dan Raden Bentabonter juga mengalami nasib yang sama. Begitu pula dengan pasukan induk di sebelah utara, meskipun mampu merobohkan begitu banyak prajurit-prajurit Bali akan tetapi juga mengalami nasib yang sama.Setelah banyak prajurit-prajurit tangguh Sakra yang tewas, barulah prajurit-prajurit Bali maju dan memasuki Sakra dengan membawa perlengkapan senjata lengkap. Puri yang hanya tinggaldan dipertahankan oleh Pe' Siraga juga jebol dan diratakan dengantanah. Seluruh bangsawan Sakra mati, kecuali para kanak-kanak yang sebelumnya telah diungsikan ke Korleko.
Pe Siraga sendiri tewas sementara Raden Bini Ringgit menyiapkan pusakanya danuntuk pertama kalinya meminta ampun kepada suaminya sebelum puputan sabil. Raden Bini Ringgit meminta bantuan pada suaminya untuk menyelamatkan anaknya yang masih bertempur di dalam desa,akan tetapi Karaeng Manajai menemukan putranya sudah tewas.
Pemban Bini Ringgit karena sudah sepuh dan tua gagal puputan sabil, dengan mudah ia ditangkap dan ditahan sebagai sandra yang sangat berharga di Taman Kelepug (Mayura) dan didampingi oleh anak tirinya.
Perang Sakra ini berlangsung pada tahun 1824-1828M meluluh lantakkan Sakra. Perang ini disebut "Peresak". Kerajaan Sakra dianggap runtuh dan hanya berumur 50 tahun, terhitung sejak 1780 M hingga dengan 1828M. Setelah kekalahannya, pihak Sakra kemudian menjalin dan membina hubungan baik dengan kerajaan Karangasem.
I-PASCA RUNTUHNYA KEDATUAN LOMBOK
Pasca runtuhnya Kedatuan di Lombok seperti Selaparang,Pejanggik ,Langko dan lain lain maka berdirilah Kerajaan Karang Asem bali di Lombok ,dalam babad Lombok disebutkan.
Berkembangnya Karangasem (SIngasari) Bali Di Lombok Kerajaan Karangasem bali menunjuk wakilnya di Lombok yaitu kerajaan Singasari (Karangasem Sasak). Hubungan antara kerajaan-kerajaan berdasarkan asas kekeluargaan untuk mencapai kemakmuran dan kepentingan bersama.
1-BERDIRINYA KERAJAAN SINGASARI LOMBOK.
Berkembangnya Karangasem (SIngasari) Bali Di Lombok Kerajaan Karangasem bali menunjuk wakilnya di Lombok yaitu kerajaan Singasari (Karangasem Sasak). Hubungan antara kerajaan-kerajaan berdasarkan asas kekeluargaan untuk mencapai kemakmuran dan kepentingan bersama.
Untuk memperkuat persatuan ini raja Singasari mendirikan Pura Meru di Singasari pada tahun 1774 M Kerajaan Singasari bertindak sebagai ketua di dalam sebuah pemerintahan federasi. Pagesangan biasanya berposisi sebagai Patih sedangkan Kediri dan Sekongo dilebur menjadi bagian dari Pagutan,sedangkan Kuripan terpencil sendirian.Adapun pemerintah kerajaan Singasari (1740-1838M) berturut-turut diperintah oleh tiga raja dengan gelar yang sama yaituI Gusti Made Karangasem (I, II, dan III).
Pada masa inilah terjadi gelombang perpindahan orang Bali ke Lombok secara besar-besaran.Dalam menjalankan pemerintahannya, untuk urusan ke bawah diserahkan kepada para punggawa. Sedangkan untuk menarik pajak kepada rakyat Sasak diserahkan kepada pejabat yang berasal dari suku Sasak untuk memerintah,mengatur dan mengkordinir suku sasak itu sendiri.. Sekongo' sebagai kota pelabuhan banyak dikunjungi pedagang luar.
Hal ini dianggapnya sebagai penghalang. Untuk menambah kas perbendaharan dan kekuasaannya, Singasari menaklukan Sekongo' pada tahun 1803M. Singasari mengangap dirinya lebih mampu sehingga kerajaan yang lainnya tidak dibiarkan maju.Raja Singasari mempunyai empat orang anak, yang sulung bemama Dewa Cokorda, kemudian Anak Agung Bagus Oka, Anak Agung Bagus Karangasem dan yang bungsu bemama Agung Ayu Putri yang dikawinkan dengan anak Raja Mataram. Sebagai pengganti Raja Singasari, diangkatlah Dewa Cokorda yang didampingi oleh patihnya Gusti Gde Dangin.
2.PERLAWAN KEDIRI TERHADAP SINGASARI LOMBOK
Perlawanan Kediri Terhadap Kerajaan Karengasam (Singasari/Cakranegara)Kesewenang wenangan Singasari telah memancing amarah Kediri, sehingga secara diam-diam Kediri menyusun kekuatan dan mempengaruhi Rincung Lilin, Penujak, Sakra, jerowaru, dan Kopang. Rencana pemberontakan ini dibocorkan oleh I Raspa. IRaspa adalah voorang kawula Kediri sebagai pemegang gadai sawah Gde Banawi dari kaula Singasari. Pada 1804 M Singasari mengirim ekspedisi ke Kediri.Rakyat Kediri yang tidak mau berperang pindah ke Pasengan. Kediri mendapat serangan arah utara, selatan, dan barat.
Pasukan Kediri dipimpin oleh Sura Tresna dan Walamuka. sedangkan pasukan Singasari di bawah pimpinan Wiryalunglungan dan Purusa Pakasutan. Pasukan Singasari terdesak mundur sampai ke sungai Babak tetapi setelah datangnya balabantuan dari Mataram, Pagesangan dan Pagutan. Akhirnya Kediri dapat dikalahkan. SetelahKediri habis terbakar, Sura Tresna muncul dari utara dan mengangkat senjata. la rela mati demi membela kehormatan dan kemerdekaan negerinya.
3-PERLAWANAN SAKRA
Didudukinya kerajaan Karangasem oleh Bulelengmenyebabkan raja Karangasem I, Gusti Gde Ngurah Lanang, pergimenuju Lombok dan mendirikan keraton di Gunung Sari pada tahun1824 M.
Hal ini menimbulkan kecurigaan pada pihak Mataram dan Pagutan karena menganggap Raja Karangasem tersebut akanmenempatkan seluruh Lombok di bawah kekuasaannya. Timbullah saling curiga yang kemudian berlanjut menjadi perselisihan.Kondisi ini dimanfaatkan oleh pemimpin Sasak dari Sakra yaitu Mas Panji Komala. Pada tahun 1826 M, Raja Sakra mengumumkan perang melawan Singasari (kerajaan KarangasemSasak).
Ada beberapa hal yang menyebabkan perlawanan Sakrayaitu: Pertama, Raden Suryajaya, seorang perkanggo merangkaptelik (mata-mata), melakukan korupsi dan sangat takut kalaurahasianya terbuka.
Kedua, sebagian besar bangsawan Sakra gelisahkarena anak gadisnya akan diperistrikan raja-raja di Mataram.Ketiga, sejak lama Mas Panji Komala menantikan saat yang tepatuntuk mernaklumkan perang terhadap kekuasaan Bali (Singasari,Mataram, Pagesangan, dan Pagutan) Permakluman tersebut ditolak oleh Karaeng Manajai (ayahdari Mas Panji Komala).
Penolakan tersebut karena memangsebelumnya Mas Panji Komala lebih berpihak kepada ibunya. Sepertitelah dikisahkan sebelumnya, salah seorang putra raja Goa bemamaKaraeng Manajai diperintahkan untuk mencari jodoh dari kalangankeluarganya yang ada di Lombok. Karaeng Manajai dibekali sebuahkeris pusaka dan sebuah cincin.
Sesampai di Lombok, Karaeng Manajai menghadap kepada dua orang bersaudara Meraja Kusuma dan Dewa Laki Orpa dan mengeluarkan pusaka tersebut. Ternyatakeris dan cincin tersebut sangat cocok dimiliki.Akhirnya Karaeng Manajai dikawinkan dengan Dene BiniRinggit (Putri Dewa Laki Orpa, Pemban Mas Hang Pijot). Dari perkawinan tersebut, lahirlah dua orang anak bernama Dewa MasPanji Komala dan Dene' Binti Nyanti.
Dewa Mas Panji Komalaterlahir sebagai penentang kekuasaan Bali di Gumi Sasak. Karaeng Manajai kawin lagi dengan orang Mate'naling yang bernama Bunga sehingga hubungan dengan Dene' Bini Ringgit semakin renggang.Oleh sebab itu, anak-anaknya memihak kepada ibunya. Inilah yangmenjadi latar belakang mengapa nasehat Karaeng Manajai tidak diindahkan oleh Mas Panji Komala yang berakhir dengankehancuran Sakra.Penolakan tersebut tidak menghalangi keinginan Dewa MasPanji Komala untuk tetap berperang melawan Singasari.
Dewa Mas Panji Komala memproklamirkan diri terbebas dari Karangasem.Raden Suryajaya menggerakkan bala bantuan dengan mangajak dan mengintimidasi desa-desa Suradadi, Kopang, Rarang, Batukliang,dan Praya.Rencana penyerangan Sakra ke Singasari, Mataram, Pagutandan Pagesangan terdengar oleh Singasari.
Akhimya perselisihan yangterjadi segera dihentikan untuk bersatu melawan kerajaan Sakra. Bala bantuan dari pulau Bali didatangkan. Pada saat itu, raja Singasari berjanji, bahwa apabila kerajaan Sakra dapat dikalahkan maka daerahLombok akan dibagi-bagi kepada kerajaan-kerajaan, desa-desa, danorang-orang yang membantunya. Pada tahun 1826 M pecahlah pertempuran antara Sakradengan Karangasem Lombok di Kopang.
Pasukan Sakra terpukulmundur dan Kopang dijadikan lautan api oleh Singasari. Setelah itu pasukan Singasari beserta sekutunya bergerak ke pusat pertahananSakra. Bantuan dari Karaeng Manajai, Raja Abubakar dan Raja Menjeli dari Sulawesi tak kunjung datang karena tertahan oleh banyaknya penjagaan di masing-masing pelabuhan. Bantuan terpaksa mendarat di Labuan Lombok akan tetapi didesak mundur sampaiSumbawa. Sakra terkepung dari segala arah.
Pemban Aji berusaha untuk membuka kepungan musuh dengan melakukan serangan kedesa-desa tetapi tidak berhasil dan terdesak, kemudian mengundurkan diri ke Patondang.Pada saat yang sangat kritis, Dewa Mas Panji Komala menyerukan jihad fisabilillah. Pasukan Singasari dan sekutunyaakhirnya dapat dihalau mundur sampai ke Masbagik.
Dengan adanya kemenangan yang gemilang ini membuat Dewa Mas Panji Komala mabuk kemenangan dan membuat suatu kekeliruan. Semua prajuritnya menjadi pengecut dan tidak berani menghadapi musuh,sehingga pada penyerangan berikutnya, Sakra dapat dikalahkan.Dewa Mas Panji Komala menghilang dan ibunya Dene' Bini Ringgit ditangkap dan ditawan di Taman Kelepung Singasari (TamanMayura).Sesuai dengan janji yang diikrarkan oleh raja, setelah peperangan usai, maka daerah kekuasaan dibagi dengan perincian berikut:
(1) Mataram diberikan desa-desa yang berada di sebelahtimur sungai Babak,
(2) Pagesangan diberikan desa-desa Suradadi,Suralaga, Kembang Kuning, dan desa Surabaya,
(3) Pagutandiberikan desa-desa seperti Batujai, Batukliang, dan Batutulis,
(4)Sedangkan sisanya adalah wilayah kekuasaaan Singasari.
4-RUNTUHNYA KERAJAAN SINGASARI KARANG ASEM LOMBOK
Setelah Perang Sakra, ternyata perselisihan lama kembalitersulut yang mengakibatkan terjadinya perpecahan antar merekasendiri. Di sisi lain, ketikakerajaan Gunung Sari dipersatukan dengan kerajaan Mataram oleh kerajaan Singasari. Kerajaan Mataram tidak dapat menerima keputusan tersebut. Tindakan sewenang-wenangserta adanya gejala untuk menghapus kerajaan-kerajaan kecilm enyebabkan pihak Mataram mulai mendekati dan mempengaruhidesa Kopang, Batukliang, Praya, Sakra dan lain-lain untuk menggempur Singasari. Secara umum dapat dikatakan bahwa, penyebab keruntuhan kerajaan Singasari sebagai berikut :
1-Masing-masing kerajaan tersebut merasa paling baik.
2-Tindakan Dewa Cokorda yang kurang baik seperti: perbuatanyang tidak senonoh dengan saudara kandungnya sendiri.Kemudian, selalu merusak serta merampas daerah kerajaanMataram dengan membuat hutan perburuan baru yangmempersulit rakyat Mataram mencari kayu dan alang-alang.Pemerintahannya juga kurang adil sehingga menyebabkan Kopang dan Praya lebih dekat dengan pihak Mataram daripada Singasari.
3-Kebencian Pagesangan kepada Singasari karena hampir semua keluarga Raja Pagesangan tewas.
Hanya seorang yang dapat lolosdan melarikan diri ke teluk di Sumbawa.Ketika terjadi perebutan wilayah antara Penujak (termasuk wilayah Singasari) dengan desa Kateng (termasuk wilayahMataram), maka pada tahun 1838M, raja Mataram memaklumkan perang kepada Singasari. Maklumat tersebut ikut mempengaruhi desa Batukliang, Kopang, Praya dan Sakra. Selanjutnya kerajaanMataram dibantu oleh kerajaan Pagesangan dan Pagutan. Mereka juga didukung oleh Kapten King, pedagang Inggris dan nakhoda kapal yang bernama Ismail.
Kemudian Karangasem Bali jugamendatangkan 6.000 pasukan untuk membantu Mataram. Sedangkan pihak Singasari dibantu oleh Lange (pedagang Denmark) danseorang pedagang dari Skotlandia.Dalam peperangan tersebut, Mataram berada dalam keadaan kritis setelah tewasnya Raja Sepuh I Gusti Karangasem III di Rumak.Pada saat itulah Sakra bergabung dengan Kuripan membantuMataram dalam menggempur Singasari. Kerajaan Singasari dikepung dari segala jurusan, seluruh penghuni Singasari melakukan puputan di Sweta. Dalam peperangan ini, istana Singasari dibakar dan semua keluarga raja tewas kecuali dua orang anaknya yang masih kecil,seorang perempuan dan laki-laki, mereka kemudian dibawa ke Karangasem Bali. Sedangkan Gusti Gde Dangkin, Patih Singasari,tewas di Pamotan. Kerajaan Singasari menyerah kalah terhadap kerajaan Mataram pada tahun 1839 M.
4-KERAJAAN MATARAM.
Kekalahan Singasari telah mengangkat derajat kerajaanMataram. Orang-orang yang membantu Mataram diberi hak otonom serta diangkat menjadi pejabat, seperti Gusti Wanasari,Gusti Gde Wanasara, Sang Wahayan Lebah yang diangkatmenjadi Punggawa dan.Sang Bonaha yang diangkat menjadiPatih.Pada tahun 1839 M SangBonaha dipengaruhi oleh Langesehingga berbalik melawanMataram. Sementara untuk membunuh sang Bonaha sangatlah sulit karena ia konon sakti mandraguna.
Namun raja tidak kehilangan akal, ia mengancam bangsawan Batujai dan akan diturunkan kastanya jika dalam waktu tiga bulan tidak mampu membunuh Sang Bonaha. Sehari sebelum ancaman berakhir Mamiq Salim berhasil membunuh Sang Bonaha yang A. A. Ketut Karangasem dikatakan sakti mandraguna. Dari kalangan orang Sasak, Dene' Batu Laki dan Dene' Laki Galiran dari Kuripan diberikan hak otonomi di bagian sebelah timur sungai Babak dan sungai Belimbing. Begitupula Kopang, Mantang,Rarang, Praya diberi hak otonomi tanpa membayar pajak keMataram
5-BERKEMBANGNYA KERAJAAN MATARAM
Kerajaan Mataram sebagai penguasa tunggal di pulauLombok berturut-turut diperintah oleh tiga raja. Raja yang pertama Anak Agung Ketut Karangasem IV (1838-1850 M), yangmengkonsolidasikan Mataram sebagai kerajaan tunggal yang bercorak sentralistik dan represif.
Raja kedua adalah Anak Agung Made Karangasem (1850-1872M), di bawah raja inilah dilakukanrenovasi atas Taman Kelepug menjadi Taman Mayura. Dibangun pula Pura Meru, Tamaiq Suranadi, Lingsar, dan dirintisnya pembangunan Taman Narmada yang diberi ukir kawi dan selesaitahun 1866 M. Kemudian Cakranegara (negara yang sudah bulat bersatu) ditata sebagai pusat pemerintahan.
Raja terakhir yang paling bungsu adalah Anak Agung Gede Ngurah Karangasem (1872-1894M), yang dinobatkan sebagai raja dalam usia 70 tahun lebih.Raja Mataram mengawini Dende Aminah dan namanyadiganti manjadi Dende Nawangsasih (Nawang artinya tahu, Sasihartinya bulan). Perkawinan tersebut konon berdasarkan petunjuk gaib.
Dende Aminah alias Dende Nawangsasih terkenal sangat taat menjalankan agamanya, dia sangat berpengaruh kepada suaminya, sehingga diizinkan untuk mendirikan sebuah masjid yang dibangun dekat Taman Mayura. Dia diperkenankan juga mendatangkan seorang guru agama.Gurunya bernama Guru Baok alias Haji Moh. Yasin dari Kelayu. Dende Aminah memiliki penasehat spiritual dari Arab bernama Sayid Abdullah. Dari perkawinan dengan raja Mataram ini kemudian lahir seorang anak bernama Gapul atau Imam Sumantri yang terkenal sebagai Datu Pangeran.Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya, karena dengan mudahnya memerintah orang Sasak untuk ngayah membangun berbagai tempat peribadatan tetapi banyak pula perkanggo Sasak menjadi kaya raya. Pada saat ini, Mataram mengubah nama Singasari menjadi Cakranegara (negara yang bulat).
Orang Islam bebas beribadah bahkan di Ampenan dibangun sebuahmasjid. Selain itu, didatangkan pula guru qur'an dan hadits. Mataram menjadi penguasa seluruh Lombok, termasuk mempersatukan kerajaan-kerajaan yang dulu dibagi-bagikan, yaitu,kerajaan Pagesangan, Pagutan dan Kediri. Kemudian keraton baru dibangun di tempat bekas keraton kerajaan Singasari, dan dinamakan Puri Ukir Kawi yang dihuni oleh A.A. Gde Ngurah Karang Asem dibantu oleh seorang anaknya yaitu A.A. Made Karangasem, sedang Puri Mataram dihuni oleh anaknya yang lain yaitu A.A. Ketut Karangasem, sang putera mahkota calon pengganti ayahnya.
6-SISTEM PEMERINTAHAN MATARAM
Pada awalnya, susunan pemerintahan Mataram adalahsebagai berikut:Berbagai ketentuan yang berlaku:
1-Punggawa atau perkanggo diangkat dan diberhentikan oleh raja, berdasarkan keturunan disamping kecerdasan dan keberaniannya.
2-Pemekel dan keliang diangkat perkanggo oleh penggawa, berdasarkan keturunan dan wibawa di dalam masyarakat dan atasnasihat pemuka masyarakat.
3-Penghasilan perkanggo atau penggawa berasal dari pemberianizin tanah yang tidak terbatas kepada rakyat yang dikerjakansecara gotong royong atau sebagai penggarap
4- Bagi perbengkel dan keliang mempunyai tanah pecatu, yangdapat dibedakan atas pecatu pusaka dan pecatu mider.
5-Soal perselisihan antara wilayah masing-masing punggawa, perkanggo, perbekel, dan keliang, diberikan wewenang untuk menyelesaikannya sendiri. Jika tidak dapat diselesaikan sendirimaka harus diajukan ke struktur yang lebih tinggi.
6-Perkanggo dan punggawa diberikan wewenang untuk mengatur dan menyelenggarakan pemerintahan pada wilayah masing-masing.
7- Perkanggo juga diberikan wewenang dan diwajibkan untuk mengumpulkan upeti/ membayar pajak bentuk natura. Rakyatyang diwajibkan membayar upeti hanyalah golongan yangmemiliki tanah.
Untuk pekerjaan pembuatan, perbaikan ataupun pemeliharaan jalan, rakyat Sasak jugalah yang diwajibkanmelakukan ngayah. Ngayah adalah sejenis kerja rodi. Rakyatdisuruh membangun berbagai tempat ibadah, jalan¬jalan, jembatan, rumah-rumah para raja maupun orang Bali. Selain itu juga sering kali diikutkan berperang membela/membantukerajaan bila diperlukan.
7. PERANG PAGUTAN DAN MATARAM
Salah seorang putra raja Mataram yang sudah dewasadilamarkan seorang putri bernama Ayu Bulan dari Pagutan. Akantetapi lamaran tersebut ditolak oleh pihak Pagutan. KeberanianPagutan menolak lamaran tersebut karena dijanjikan bantuan olehKuripan. Apabila terjadi peperangan melawan Mataram, pihak kuripan bersedia membantu Pagutan.
Kerajaan Mataram merasadilecehkan oleh peristiwa tersebut, akhirnya peperangan pun tak dapat dihindari. Pada tahun 1839 M, Raja Pagutan, Gusti Ketut Putradengan beberapa orang keluarganya tewas. Hingga perang usai, bantuan dari Raja Kuripan Dene' Laki Batu tidak kunjung datang.
8-PENGHANCURAN KEKUASAN SASAK
Peristiwa peperangantersebut sangat disesalkan olehMataram. Semua itu terjadikarena ulah Kuripan. AkhirnyaMataram mencabut hak otonomiyang diberikan kepada seluruhdesa-desa termasuk Kuripan,Praya, Kopang, Mantang, Rarangdan lain-lainnya. Mataram beranggapan bahwa pemberian otonomi itu pada akhirnya akanmenimbulkan malapetaka bagi pemerintahan Mataram Mataram menjadi sangat hati-hati karena ia menyadari betul apabilakekuatan Sasak bersatu di bawah kekuatan Islam maka bisamenimbulkan malapetaka bagi Mataram. Kemudian Mataram melakukan upaya adu-domba.
Peperangan Kuripan Siasat tersebut kemudian mulai dijalankan. Satu persatu kerajaan Sasak ditaklukan. Pertama diawali dari Kuripan. Kuripan diundang oleh Mataram akan tetapi Dene' Laki Batu dan Dene' BatuGaliran membawa para patih dan punggawa.
Dalam pertemuan tersebut pihak Mataram menyerahkan wilayah sebelah timur sungai Belimbing menjadi bagian dari kekuasaan Kuripan, sedangkan wilayah sebelah barat sungai itu akan dikurangi. Kuripan minta waktu untuk berpikir. Setelah pulang mereka sepakat untuk menolak permintaan tersebut.
Pada undangan yang kedua Dene' Laki Batu dan Dene' Laki Galiran dapat dibunuh pada tahun 1840 M. Wilayah Kuripan diperintah langsung oleh kedua putri Dene' Laki Batu,masing-masing Dende Rada dan Dende Sumekar yang selanjutnyadibawa ke Mataram, sedangkan anak laki-laki Dene' Laki Batumenghilang.
9- PERANG PRAYA I
Penaklukan selanjutnya diarahkan ke Praya yang dipimpinoleh Raden Wiracandra. Berkali-kali Raden Wiracandra ke Mataram, tetapi setiap kedatangannya selalu membawa pengiring yang sangat banyak dan bersenjata lengkap. Praya sudah menyadari bahwa malapetaka bagi dirinya hanya menunggu giliran saja. Praya sudah tidak tahan lagi memelihara persahabatan dengan Mataram.Beberapa hal yang menjadi sebab perang Praya I ini antara lain:
1.Kerajaan Mataram merobek-merobek (melanggar) perjanjianantaraArya Banjar Getas dengan I Gusti Ketut Karangasem.
2-.Daerah kekuasaan Banjar Getas sejak lama telah digerogoti sedikit demi sedikit dengan mendirikan desa-desa otonom dibawah perintah langsung dari Mataram
3-.Dalam usahanya untuk menguasai seluruh Lombok, KerajaanMataram selalu menjalankan politik adu domba antara para pemimpin Sasak.
4-. Raden Wiracandra difitnah akan menyerang Mataram.Usaha terakhir Mataram untuk menaklukkan Praya secarahalus, adalah dengan melamar putri Raden Wiracandra yang ditolak oleh Praya.
Maka untuk menyerang Praya, raja Mataram menghasut desa-desa tetangganya untuk memusuhi Praya.Akibat hasutan Mataram itu, seolah-olah Kopang dan Batukliang itu menjadi musuh utama bagi Praya, maka Praya menyerang Batukliang dan Kopang. Kedua desa itu mendapat bantuan dari Mataram di bawah pimpinan Ratu Gde Wanasara yangdidampingi oleh I Made Rai dan Gusti Made Kaler.
Untuk menghindari korban yang lebih banyak, terutama anak-anak dan wanita, maka raja Mataram memerintahkan supaya Praya ditunggu di perbatasan Praya dan Batukliang. Wilayah Praya dikepung oleh pasukan Batukliang, Kopang dan Mataram serta diperkuat pasukandari Batujai, Suradadi, Penujak, Jonggat Puyung, Rarang, dan Sakra.Hampir setengah tahun lamanya terjadi perang tiada berkesudahan,sehingga menimbulkan bencana kelaparan. Beberapa orang pasukanyang keluar untuk mencari makanan dibunuh oleh para musuh.
Hal itu menyebabkan Raden Wiracandra dan pembantunya gelisah.Mereka bertekad untuk perang fisabilillah. Pada peperangantersebut, Raden Wiracandra tewas. Pasukan rakyat yang fanatik,dibawah pimpinan Haji Umar menjalani perang fisabilillah.Semuanya gugur di medan perang. Raden Tunggul, putra dari RadenWiracandra dapat meloloskan diri dan pergi ke Bugis.
Para putri- putri Raden Wiracandra dan tawanan yang lain dan sebagian lagi dibuang ke Bali dan Tanjung (Lombok Utara), beberapa dari merekaada pula yang dibunuh. Sejak itu Praya berada di bawah kekuasaanAnak Agung Gde Ngurah, raja Karangasem. Sedangkan di Praya diangkat seorang pimpinan dari keturunan Banjar Getas bernamaMamiq Sapian.Hancurnya kerajaan Praya menambah martabat Kopang dan Batukliang. Hal ini tidak menyenangkan raja Mataram.
Politik pecah-belah terus dijalankan. Beberapa tahun setelah perang Praya pertama, Jero Wirasari pimpinan Kopang, dipanggil ke Mataram.Ketika Jero Wirasari berangkat bersama para pengiringnya, iadidakwa dan difitnah akan memberontak ke Mataram. Raja memerintahkannya untuk ke Pemenang (Lombok Utara) dan tanpadisadari kemudian dikeroyok dan dibunuh oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Gusti Ketut Ning. Jenazahnya dimakamkan oleh para pengiringnya di Pemenang.
Sejak saat itu Kopang mengalamikemunduran.Rencana Raja Mataram untuk menguasai desa demi desasemakin menjadi jadi, sehingga ia tidak lagi membedakan kawanatau lawan, yang penting tujuannya tercapai dengan mudah dancepat. Satu-persatu sekutunya dihancurkan.
Hal ini sangat menggelisahkan para pemimpin Sasak. Mereka tidak dapat bersatuakibat politik Mataram yang sangat cerdik.Lima bulan setelah Kopang, tiba giliran Batukliang menuaimasalah. Raden Sumintang diminta datang ke Mataram. Para bangsawan dan pembantunnya melarang beliau datang ke Mataram untuk memenuhi surat panggilan dari Anak Agung Mataram itu.
Setelah tiga kali surat diterima dan tidak dihiraukan juga; maka Mataram mengirim pasukan di bawah pimpinan Gusti Made Sangkauntuk menangkap Raden Sumintang dalam keadaan hidup atau mati.Agar Batukliang tidak bernasib seperti Praya, Raden Sumintangmenyerahkan diri di Aik Gering kepada pasukan yang akanmenangkapnya.
Disitulah beliau dibunuh oleh Gusti Made Sangka.Melihat Radennya dibunuh, para pengiringnya bernama Tati'Engkis tidak dapat menahan diri lalu mengamuk. Tetapi baru dapat menewaskan seorang musuh, ia pun tewas. Jenazah RadenSumintang dimakamkan di Batukliang.
10-PERANG KALIJAGA
Sebab-Sebab TerjadinyaSebelum dilantik menjadi raja, Anak Agung Gde Ngurah Karangasem berfikir bagaimana cara agar dua golongan yang berbeda agama bisa berdamai. Atas petunjuk gaib dalam pertapaan di Batu Bolong, ia bermimpi saat itu kejatuhan bulan di Kalijaga.
Anak Agung Gede Ngurah Karangasem bersama Gusti Gde Wanasara kemudian melamar Dende Aminah dari Desa Kalijaga Lombok Timur. Dende Aminah dipercaya sebagai pemegang Wahyu Kedaton Selaparang.Dende Aminah merupakan putri dari Dea Guru, seorang pemuka Islam yang terkenal shaleh. Baliau adalah saudara dari Dea Meraja, pemimpin desa Kalijaga. Dea Guru dan Dea Meraja menolak lamaran itu karena sudah dijanjikan bantuan oleh Raja Amir dari Desa Mamben dan Raden Kardiyu dari Korleko bila nantinya diserang oleh Mataram.Anak Agung Gde Ngurah berkirim surat kepada Dea Gurudan Dea Mraja untuk datang ke Mataram, tetapi undangan itu ditolak, karena datang ke Mataram berarti mati. Penolakan surat tersebut sangat menyakitkan hati raja. Maka siasat lamapun dijalankan, "Pecah dan Kuasai".
Perlawanan Kalijaga Atas berbagai pertimbangan, akhirnya surat pemanggilan tersebut dipenuhi. Maka diutuslah Raden Kardiyu dim Raden Amir ke Mataram. Sesampainya di Mataram, mereka diterima oleh Patih Gusti Wanasara. Meskipun tanpa bukti, mereka dituduhmemberontak. Kemudian mereka diikat dan dibawa ke Sema(Kuburan Bali) untuk menjalani hukuman mati.
Ternyata merekatidak mempan senjata. Gusti Wanara melaporkan kejadian yang sangat aneh ini kepada Raja. Rajapun mengampuni keduanya dengan syarat agar supaya mereka berdua bersedia menangkap Dea Raja dan Dea Guru dalam keadaan hidup atau mati. Demikianlah, Mamben dan Korleko pun menyerang Kalijaga. Namun serangan itu dapat ditahan oleh Kalijaga. Raden Amir dan Raden Kardiyu tersadar, bahwa mereka harus berpihak kepada Kalijaga.
Akhirnya mereka pun berbalik melawan Mataram. Mereka berencana menyerang kedudukan Mataram di Pringgasela dengan beberapa strategi: -Dari Barat Daya dipimpin oleh Dea Mraja dibantu oleh Raden Kardiyu, Mamiq Lisah, Mamiq Putra, Pun Kebiandan Raden Nuna Darmasih.-Dari Arah Timur dipimpin oleh Dea Guru dibantu ol,eh Raden Amir, Pe Sumping, Mamiq-Dalu, Papuq Lokah, Amaq Kedian, Mamiq Mesir, dan Pe Rumah.Ketika peperangan berlangsung, RadenAmir dan RadenKardiyu ingat janjinya sehingga berbalik melawan Kalijaga. RadenAmir, Raden Kardiyu, Pe Sriyaman yang membela Mataram memukul mundur pasukan. Kalijaga untuk kemudian membakar Kalijaga. Dea Meraja dan puterinya Raden Muna Darmasih melarikan diri naik perahu ke Bima, sedangkan Dea Guru bersama putrinya, Dende Aminah dan beberapa orang pengiringnya bersembunyi di dalam sebuah goa di hutan Bungus Bawi, namun musuh dapat menemukannya, sehingga mereka dapat dibunuh.
11-MATARAM MENEGAKKAN KEKUASAANNYA
Sistem pemerintahari yangdigunakan pada masa itu adalah pemberian hak otonomi terbatas kepada desa di wilayah Timur Juring. Setiap desa mengangkat para pemuka desa untuk memungut upeti dan pajak, tetapimereka mendapat pengawasanlangsung dari seorang Bali.Untuk memantapkan danmenegakkan kekuasaannya, Anak Agung membuat peraturan- peraturan sebagai berikut:
1- Peraturan tentang pertanahan.
2- Menghapus gelar "Raden" bagiorang Sasak.
3- Menghapus prasasti dan silsilah bagi orang Sasak
4- Memperluas perjudian sabung Ayam. Pembagian harta peninggalan didasarkan patriarkat dalam pengertian bahwa jika seseorang meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka harta peninggalannya itu menjadi hak milik raja).
5- Pemberian gelar "Jero" bagi pimpinan Sasak.
6- Pemerasan tenaga kerja untuk pengabdian kepada raja.
13-RUNTUHNYA MATARAM
Atas Kondisi tersebut, parapemuka SasakmemintapemerintahHindia-Belanda untuk ikut campur dalam menangarii perangLombok. Setelah menerima permintaan bantuan persenjataan bagirakyat Sasak, pemerintah Belanda mengirimkan utusannya untuk melihat secara langsung keadaan orang-orang Sasak.
Dalam peninjauannya di Pulau Lombok itu, Liefrinck melaporkan keadaanyang sesungguhnya, yaitu terjadi berbagai penderitaan sepertiterjadinya bencana kelaparan dan wabah penyakit yang menimpaorang-orang Sasak.Laporan dari Liefrinck, utusan pemerintah Belanda tersebut,sangat berpengaruh atas pemerintahan dan kekuasaan Bali diLombok.
Laporan ini ditanggapi dengan sangat teliti oleh pemerintahBelanda di Batavia. Belanda pun sangat perlu untuk ikut campur menyelesaikan perang Lombok.Belanda berupaya untuk mempertemukan orang Sasak danMataram, akan tetapi menemui jalan buntu.
Akhirnya Belandamengeluarkan ultimatum yang memberatkan Mataram. Padamulanya Mataram menolak permintaan tersebut, akan tetapikemudian meminta menunda jawaban. Pihak Mataram selalumengulur-ulur waktu. Melihat gelagat tersebut, Belanda mendaratkan pasukannya di Ampenan. Maka man tidak mau, ultimatum tersebutharus diterima.
Setelah itu, Belanda menggelar pasukannya danmemindahkan markasnya di tanah lapang di muka Pura Meru agar pembicaraan berjalan cepat dan lancar. Belanda memaksa pihak Mataram untuk menandatangani surat perjanjian yang disaksikan oleh pemuka-pemuka Sasak. Jenderal Van Ham menemui para pemuka Sasak tersebut di Sisik Labuhan Haji, dan meminta mereka agar datang ke Cakranegara. Akan tetapi pemuka-pemuka Sasak menolak undangan tersebut. Setelah mendapat penjelasan secara langsung dari Panglima pasukan, akhirnya para pemuka Sasak menyepakati untuk datang ke Mataram dengan mengirim dua orang utusan.Adapun isi perjanjian antara Mataram dan
Belanda yangtertanggal 7 Juni 1843M sebagai berikut:
1- Mataram mengakui kedaulatan Belanda atas pulau Lombok.
2- Mataram tidak lagi melakukan hak adat tawan karang.
3- Mataram akan melindungi kepentingan perdagangan Belanda
4- Mataram tidak lagi kontak atau melakukan perjanjian dengan bangsa kulit putih lainnya.
5- Sebagai imbalan-Mataram diberi hak otonomi penuh oleh Belanda dalam melaksanakan pemerintahan di Lombok.Kedatangan utusan Sasak tersebut justru meninggalkan permasalahan baru.
Mereka justru meninggalkan tempat perundingandan memulai peperangan. Keadaan ini menyebabkan banyak pasukan Belanda meninggal, salah satunya Jenderal Belanda adalah Jenderal Van Ham.Pada tahap selanjutnya, Belanda mengirim ekspedisi yang sempurna dan melakukan penyerangan terhadap Mataram dari berbagai penjuru.
Serangan Pada tahun 1894 M tersebut berhasil menghancurkan dan membakar puri hingga hampir rata dengan tanah. Mataram kemudian dapat ditaklukkan.Peristiwa penting yang terjadi pada waktu itu ialah ditemukannya keropak(naskah lontar) Desa warnama yang kemudian terkenal dengan nama Negarakertagama. Menurut Brandes, naskahini diketahui sebagai satu-satunya naskah yang berisi gambaran paling lengkap tentang kerajaan Majapahit.
14-PERANG LOMBOK.
Latar Belakang Perang Lombok
Dikeluarkannya berbagai peraturan oleh kerajaan Mataram yang bertujuan untuk memantapkan dan menegakkan kekuasaannya, telah membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi rakyat Sasak. Adapun peraturan tersebut di antaranya
:
(1) peraturan tentang pertanahan,
(2) MENGHAPUS GELAR "RADEN" BAGI ORANGSASAK,
(3) MENGHAPUS PRASASTI DAN SILSILAH BAGI ORANG SASAK,
(4)Memperluas perjudian sabung ayam,
(5) Pembagian harta, peninggalan,
(6) Pemberian gelar "Jero" bagi pimpinan Sasak,
(7) pemerasan tenaga kerja untuk pengabdian kepada raja.
Sebelumnya, peperangan demi peperangan dilakukan oleh orang Sasak untuk menyerang orang Bali tetapi tidak pernah berhasil karena tidak ada persatuan. Peperangan tersebut adalah:
1-.Peperangan Praya I, yang dipelopori oleh keturunan Arya Banjar.
2-Peperangan Kopang dengan gugurnya seorang pahlawan Sasak Mamiq Mustiasih, adik dari Mamiq Mustiaji.
3-.Peperangan Batukliang dengan gugurnya pemuka desa Batukliang Jero Ginawang.
4-.Peperangan Sakra yang dipimpin oleh Mamiq Nursasih dan TuanGuru Haji Ali.Peristiwa-peristiwa tersebut mengakibatkan kekuasaan Bali diLombok semakin melemah, karena di sisi lain mereka juga disibukkan dengan mengirim bala bantuan ke Karangasem Bali yang sedang berperang dengan kerajaan Klungkung.
15.PERLAWANAN PRAYA
Pada tangga l8Agustus 1891 M (2Muharram 1309 H) Mataram Guru Bangkol (Guru Ismail) bergerak menuju medan pertempuran di Pakukeling dekat Kediri. Adapun sebab-sebab pemberontakan Praya adalah:
(1) pemerintahan Mataram semakin sewenang-wenang,
(2) dendam sejak Perang Praya I,
(3)terbunuhnya seorang ulama bernama Guru yang oleh perbekel Bali di Praya tanpa kesalahan yang nyata.
Dari sebab tersebut, yang palingmenyakitkan adalah sebab yang ketiga, ketika Guru Bangkol meminta keadilan, ditolak oleh raja Mataram, maka diputuskan untuk mengangkat senjata.Pertempuran di Pakukeling, pasukan Guru Bangkol berhadapan dengan pasukan A.A. Made Karangasem, putra sulung Anak Agung Gde Ngurah Karangasem. Pada pertempuran tersebut pasukan Bali dengan persenjataan yang lengkap dapat menghalau Guru Bangkol sampai ke Praya (H. Lalu Lukman,2007). Pasukan Bali melanjutkan penyerangan, akan tetapi Praya telah dikosongkan.Semua pasukan mengungsi ke desa-desa di sekitamya, kecuali: GuruBangkol, Mami, Sapian, Haji Yasin, Mami' Diraja, Amaq Gewar,Amaq Semain, dan seorang lagi, Amaq Tombok yang tetap mempertahankan masjid Praya.Kota Praya tetap dikepung, namun ketujuh orang yang menjaga masjid berganti-ganti untuk memerangi musuh yang mengepung masjid.
Jika sudah lelah melayani musuh, lalu diganti dengan yang lain. Selama berminggu-minggu orang Bali mengepung masjid Praya, namun tidak dapat juga direbut. Orang-orang Bali tidak berani maju dan selalu mengandalkan orang-orang Sasak yang masih setia kepada mereka untuk menjadi pemuka dalam pertempuran.
Sebuah keanehan terjadi, meskipun dikepung selama berminggu-minggu oleh pasukan Bali beserta bantuan pasukanSasak, mereka tetap tidak mampu menguasai Praya. Sebenarnya strategi yang dipergunakan oleh tujuh pahlawan tersebut adalahdengan membuat sebuah bubungan yang digerak-gerakkan olehorang-orang bersenjata, sehingga semuanya tampak bergoyangdahsyat.
Akhirnya secara berangsur-angsur, rakyat yang telahmengungsi kembali memasuki kota untuk mempertahankan kota Praya. Hal ini menimbulkan kecurigaan Anak Agung Made terhadap kesetiaan pasukan Sasak yang membantunya.Karena kesal, ia mengeluarkan ancaman: jika pemberontakan Praya selesai, maka semua Haji, semua Guru, dan semua pemuka Sasak akan dimusnahkan. Sedangkan yang lainnya akan diseberangkan ke Bali dan ditempatkan di lereng-lereng gunung dan hutan di Bali. Ancaman tersebut secara berturut-turut dilakukan terhadap:
1.Praya.Memanggil Mamiq Ardita yaitu keluarga dari Guru Bangkol dengan tuduhan yang dibuat-buat kemudian disingkirkan.
2-Batukliang.Memanggil Mamiq Wirata (Jero Buru) keluarga Mamiq Ginawang karena tidak lagi dianggap setia kepada raja Bali, laludibawa ke Cakranegara dan semuannya dibunuh.
3. Kopang.Mamiq Mustiaji dari Kopang dan Mamiq Mustiasih besertadua orang pengikutnya yang bernama Haji Husen alias GuruImam dan Jero Ginawa alias Mamiq Ramelah. Tetapi merekadapat meloloskan diri pulang kembali ke Kopang.
4.Sakra.Tuan Guru Haji Ali dari Sakra, yang setia membantu Anak Agung Made dalam menyerang Praya, tetapi beliau mampu meloloskan diri pulang ke Sakra.
16-PERSATUAN SASAK
Kegagalan-kegagalan yang selama ini dialami oleh rakyat Sasak ternyata karena memang belum adanya persatuan. Melalui perundingan di Kopang akhirnya mereka mau bersatu untuk menata dan menyusun strategi serta melakukan perlawanan secara menyeluruh terhadap kekuasaan Bali. Para pemuka Sasak yang mengadakan pertemuan di desa Kopang dan sekaligus bertanggungjawab atas wilayahnya antara lain:
1. Mamiq Mustiaji dari Kopang.
2. Guru Bangkol dari Praya.
3. Mamiq Ginawang*dariBatuliang.
4. Mamiq Nursasih dariSakra.
5. Raden Melaya Kusumadari Masbagik.
6. Raden Wiranom dari Pringgabaya.
Dalam musyawarahtersebut diputuskan untuk membantu Praya dan mengangkat. TuanGuru Haji Ali Batu dari Sakra sebagai panglima perang. Kemudian para pemuka Sasak mengalihkan perhatian Anak Agung memperluasmedan perang, bukan saja di kota Praya. Aturan penyerangan ditetapkan sebagai berikut:
1-Penyerangan ke Pringgarata dilakukan oleh pasukan Masbagik, Rarang dan Kopang. Pertempuran pun berkecamuk di sebelah barat Pringgarata, di desa Sintung. Di desa Sintung tersebut Pewanga Anak Agung dan pengiringnya diserang sampai kocar-kacir. Tetapi Anak Agung dapat meloloskan diri., Sebuah pecanangan direbut oleh pasukan Kopang yang dipimpin oleh Haji Abas, lalu dibawa ke Kopang sebagai bukti.
2- Penyerangan pasukan Bali di Praya ditangani oleh pasukan Sakradi bawah pimpinan Tuan Guru
Haji Ali. Setelah berhasil merebut Puyung, tepatnya di desa Peku Keling dekat Kediri, Tuan Guru Haji Ali terluka. Beliau lalu dibawa kembali ke Sakra. Anak Agung berhasil meloloskan diri ke Narmada.
Semua orang Bali ditugaskan oleh Anak Agung menjadi pengamat dan pengawas di setiap desa. Semua orang dibunuh, kecuali beberapa penduduk desa yang karena hubungan baik dibiarkan tetap hidup, namun haru~,meninggalkan desa itu.Pihak Bali di Lombok kemudian mendatangkan sebanyak 1.200 orang dibawah pimpinan Gusti Jelantik, putra dari Raja Karangasem Bali. Pasukan inilah yang balik menyerang dengar.Menguasai desa demi desa hingga jauh masuk ke Timur Juring,kecuali Praya yang sulit dijebol. Serangan juga diarahkari sampai ke Mujur dengan sasaran akhir Sakra.
Sedangkan di sebelah utara, prajurit Mataram memporak-porandakan Mantang, Kopang, Rarang,Suradadi hingga ke Kotaraja dengan sasaran akhir Masbagik dan Pringgabaya. Akibat serangan pasukan Bali ini, seorang pahlawan Sasak yang bernama Mamiq Mustiasih, adik dari Mamiq Mustiaji gugur.
Setelah itu pertempuran agak mereda, namun masing-masing pihak tetap dalam keadaan waspada.Dengan luasnya wilayah yang terlibat sehingga peperanganini disebut Perang Lombok Pada masa ini penderitaan panjangdialami oleh masyarakat Sasak. Sawah ladang terbengkalai. sehinggaterjadi kekurangan bahan makanan dan kelaparan pun terjadid imana-mana.
17-MINTA BANTUAN
Dalam Pertemuan pemuka-pemuka Sasak di Kopang tanggal9 Desember 1891 M (bulan ketujuh Jumadil Awal 1309 H) juga memutuskan untuk minta bantuan persenjataan ke Belanda yang adadi Bali, karena terbukti bahwa pihak Mataram melakukan kontak dengar Inggris di Singapura untuk pembelian senjata dalam melawan orang-orang Sasak. Adapun sura tersebut ditandatangani padatanggal 9 Desember 1891 M oleh ketujuh pemuka Sasak yaitu Djero Mudtiadji, dari Kopang, Guru Bangkol dari Praya, Mamiq Noersasih dari Sakra, Mamic Ginawang dari Batukliang, Raden Ratmawa dari Rarang, Mamiq Wiranom dari Pringgabaya dan Raden Malaya Koesoema dari Masbagik Surat tersebut semakin memperkuat alasan Belanda untuk ikut campur menyelesaikar permasalahan di Lombok. Akan tetapi pihak Belanda di bawah pimpinan GGMC. Pijnacker Hordijk tidak dapat berbuat apa-apa. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal:
1-Padahal perjanjian 7 Juni 1843M menyatakan bahwa "pulau Selaparang adalah milik dan kepunyaan Gubernemen Belanda"
2-Sibuk menghadapi perang Aceh dan takut kepada Inggris.Sementara pelanggaran-pelanggaran pihak Mataramdibiarkan seperti:
·
Tahun 1891 M Mataram mengirim bantuan ke Bali untuk membantu Karangasem melawan Klungkung tanpa pemberitahuan Gubernur Jenderal.
1-Pemberontakan2Agustus 1891 M tidak dilaporkan oleh Mataram kepada Belanda.
2-Februari 1892M, kontrolir Liefrinck bermaksud datang keMataram, tetapi ditolak oleh raja.
3-Anjuran Belanda supaya Mataram tidak mengimpor senjatadengan menggunakan kapal laut tidak dihiraukan.
4-Mei 1982M residen Bali dan Lombok datang ke Lombok meminta keterangan tentang pengaduan orang Sasak ditolak oleh raja. .
5-Raja Mataram berusaha agar Inggris turut campur ke dalammasalah kontrak tahun 1843M.
Kemudian kembali lagi Belanda ikut campur tahun 1893M yang diwakili oleh Hordijk untuk mendamaikan rakyat Sasak dengan Mataram.
Tetapi ditolak oleh Mataram. Kali ini Raad van Indie marah dan menempuh jalan kekerasan.Kontrolir Liefrinck kemudian mengambil inisiatif dengan mendarat lewat Labuhan Haji (sebuah pantai di sebelah selatan Lombok Timur). kemudian melaporkan bahwa:
1-Di Lombok rakyat Sasak terancam kelaparan
2-Aktivitas penyerangan dari rakyat Sasak sudah berkurang danhanya bertahan di pos masing-masing.
3-Pos-pos rakyat di Praya setiap hari mendapat serangan dari Mataram sementara rakyat kelaparan.
5-Pemimpin-pemimpin dan rakyat Sasak telah bertekad tidak akan menyerah terhadap Mataram.
6-Di pihak A.A. Made bertekad sehabis perang akan membunuh semua pemimpin Sasak terkemuka dengan keluarganya serta parahaji agar tidak ada yang menganjurkan pemberontakan.
7-Menurut Liefrinck rencana A.A. Made pasti akan dilaksanakan,terbukti dengan pemanggilan dua orang pemuka Sasak dibunuh oleh A.A. Made.
18-TUNTUTAN BELANDA
Mengetahui laporan tersebut, Gubernur Jenderal memutuskan untuk ikut campur yang tidak dapat ditunda lagi. Pada tanggal22 Mei 1894 M, Gubernur Jenderal mengirim surat kepada menteri koloni Bergsma bahwa Belanda akan campur tangan untuk memperbaiki nasib rakyat Sasak. Akan tetapi sebelum menggunakankekerasan Gubernur Jenderal Van Der Wijck memerintahkan residen Bali dan
Lombok untuk menuntut Mataram sebagai berikut:
1-Raja Mataram minta maaf dan menyatakan penyesalannya atas perbuatan raja yang tidak senonoh kepada Gubernur Jenderal.
2-Raja Mataram akan menuruti perintah Gubernur Jenderal dengan tepat
3-Penerimaan campur tangan dalam keadaan yang rumit diLombok.
Berdasarkan laporan dari J.H. Liefrinck, Gubernur Jenderal diBetawi memerintahkan residen di Singaraj a untuk datang sendiri ke Mataram membawa surat tuntutan (ultimatum) yangkeberangkatannya terjadi pada tanggal 27 Mei 1894 M. Upaya perundingan yang diprakarsai oleh Belanda untuk mempertemukan orang Sasak dengan Mataram Berakhir buntu. Orang-orang Sasak meminta orang-orang Bali dipulangkan ke negerinya. Kemudian pada tanggal 9 Juni 1894 M residen menyerahkan tuntutan yang bunyinya:
1. Permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas sikap yang kurang pantas yang selalu diambil terhadap Gubernemen dan petugas- petugasnya.
2. Jaminan terhormat, agar pemerintah kerajaan (Vorsten Bestuur)selalu ditaati pihak Mataram. Pihak Mataram harus mengikutisegala "perintah dari Gubernur Jenderal sebagai pelaksana dari pemerintah atas seluruh Hindia Belanda, Di Mana Lombok Termasuk Bagian Dari Kekuasaannya.
3. Anak Agung Made Diminta Untuk Bertanggungjawab Dan Bersedia Untuk Diasingkan Ke Pulau Lain.
4. Menggunakan Perantara Residen Untuk Mengakhiri Kekacauan Dilombok Dan Berjanji Akan Tunduk Dibawah peraturan yangdikehendaki oleh residen, demi kepentingan tugas.
5. Peletakan jabatan raja yang sudah tua digantikan oleh penggantinya yang sah.
6. Kesediaan untuk melaksanakan penandatanganan kontrak politik yang baru, sesuai dengan kehendak Gubernur Jenderal.
Pembayaran semua ongkos ekspedisi.Tuntutan-tuntutan tersebut di atas harus dijawab oleh raja dalam waktu 3hari. Pada tanggal 11 Juni 1894 M, raja meminta penundaan jawaban dalam waktu yang tidak terbatas.
Permintan ini ditolak pihak Belanda, karena pada tanggal 13Juni 1894 M, residen berangkat meninggalkan Lombok dan kembali ke Singaraja dengan tidak membawa hasil apapun. Belanda kemudian mengirimkan pasukan untuk memerangi kerajaan Mataram di Lombok. Dalam bulan agustus 1894 M, Belanda mengirimkan kapal perang-dengan pasukan bersenjata lengkap di bawah pimpinan Jenderal Van Ham, para perwira kebanyakan terdiri dari orang-orang Belanda,sedangkan serdadunya terdiri dari orang Jawa, Ambon dan Manado.
19-TERBUNUHNYA ANAK AGUNG MADE.
Dalam Keadaan siap gempur tersebut, pasukan Belanda diturunkan dari kapal ke pantai sebelah utara Ampenan, di sekitar Pondok Prasi. Sedangkan para pemimpinnya menghadap raja dengan permintaan supaya.pihak kerajaan takluk dan menandatangani surat penyerakan.
Melihat kekuatan pihak Belanda yang tidak mungkinterkalahkan, maka raja terpaksa menyetujui untuk berdamai, dengan syarat diantaranya bahwa pihak Belanda masih mengakui kedaulatan kerajaan Mataram atas Pulau Lombok. Kerajaan Mataramdibebankan ganti rugi sebesar 1 juta Gulden, sedangkan penyerahanAnak Agung Made Karang Asem tidak terlaksana karena ketika terjadi pergolakan politik itu ia meninggal dunia.Berita tentang kematian Anak Agung Made sendiri mengandung teka-teki sampai kini. Di masyarakat beredar beberapa spekulasi tentang kejadian yang menyebabkan tewasnya anak rajayang saat itu menjadi incaran Belanda tersebut. Berikut akandiuraikan secara garis besar beberapa versi tersebut:
1. Anak Agung Made telah melakukan Gamia Gamana (melakukanhubungan badan dengan salah satu anggota keluarganya), makamenurut hukum kerajaan mereka harus dihukum mati, meskipun pelakunya anggota keluarga raja.
2. Menurut Belanda dalam buku "Lombok Expeditie" tulisan W.Cool tahun 1896 M, bahwa Anak Agung Made tewas karena terbunuh dengan keris.
3. Anak Agung Made Karangasem, tidak rela diserahkan keBelanda, karena ia adalah seorang kasta ksatria, maka lebih baik mati. la diduga bunuh diri.Dengan demikian terjadilah perdamaian itu, maka kedua belah pihak bersepakat untuk mengadakan upacara peringatan yang juga dihadiri oleh pemuka-pemuka Sasak yang dilangsungkan padatangga126 Agustus 1894 M. Pasukan Belanda yang diturunkan dari kapal membuat perkemahan di sebelah barat Karang Jangkong dansebagian menduduki posisi di tanah lapang di muka Pura Meru yang berhadapan dengan Puri Ukir Kawi di Cakranegara.
20-SEBAB SEBAB KERUNTUHAN MATARAM
1- Mulai tumbuh kesadaran di kalangan orang Sasak akan pentingnya makna persatuan.
2- Sejak terjadi peperangan antara Mataram-Sasak, kerajaan Mataram tidak pemah mendapat bantuan secara tulus dari para pendukungnya.
3- Pada akhir pemerintahan raja tua, A.A. Gde Ngurah Karangasem tidak mampu mengendalikan salah seorang anaknya, A.A. Made,yang terlalu memburu harta. Sedangkan putra mahkota, A.A.Ketut Karangasem, tidak berdaya.
4- A.A. Made dan A.A. Ketut Karangasem merasa malu. Kenyataan bahwa ketika perang di Praya selama tiga bulan melawan tujuh orang saja mereka tidak mampu menang, padahal pihak Mataram menggunakan berbagai persenjataan modem, hal itu menurunkan moral pihak Mataram.
5-Orang-orang Sasak yang membantu Bali tergetar hatinya uanruntuh moralnya ketika mendengar kumandang jihad fisabilillah.Akibatnya banyak orang Sasak yang berbalik haluan danmembangun Sasak bersatu.
6- Orang Sasak keberatan dikirim berperang melawan KlungkungBali.
7- Dalam beberapa peperangan yang mendatangkan malapetaka, pihak Mataram selalu meminta bantuan dari Bali. Di sisi lain, diBali sendiri terjadi perang antar kerajaan.
8- Jasa jasa baik Belanda untuk menawarkan perdamaian ditolak oleh Mataram.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

sangat jelas dan terurut dengan baik......
BalasHapus